Waspada, Anak-anak Rentan Alami Pneumokokus

oleh -97 views
Seminar-Kesehatan-Cahaya-Bunda
SEMINAR: dr Isyanto SpA memberikan penjelasan daring seputar pentingnya melindungi buah hati dari penyakit pneumokokus di era pandemi Covid-19. FOTO: RSIA CAHAYA BUNDA FOR RADAR CIREBON

CIREBON — RSIA Cahaya Bunda melakukan seminar kesehatan online seputar pentingnya melindungi buah hati dari penyakit pneumokokus di era pandemi Covid-19, Sabtu (14/11). Bertindak selaku pemateri spesialis anak Cahaya Bunda dr Isyanto SpA.

Penyakit ini rentan dialami anak-anak. Pneumokokus disebabkan oleh bakteri streptococcus pneumonia.

Dokter Isyanto menjelaskan, Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara dengan jumlah kematian balita tertinggi pada tahun 2015. Sebanyakb17 persen di antaranya karena pneumonia.

Baca juga:

Influencer Kuningan Jadi Korban Penipu, Tabungan Rp40 Juta Raib

Klaster Industri Jadi Kasus Baru Covid-19 di Kabupaten Cirebon, 28 Orang Terpapar

Beredar Screenshot Ust Maheer Hina Habib Luthfi bin Yahya

Sepintas gejala ini mirip radang paru. Seperti batuk dan demam, napas cepat dan sulit, nyeri dada, sakit kepala dan sejenisnya.

Sebanyak 81 persen kematian karena pneumonia terjadi pada anak kurang dari dua tahun. Sementara penyakit pada lansia meningkatkan risiko IPD.

Seminar yang digelar kemarin terbuka untuk umum. Gratis. Diikuti puluhan peserta termasuk karyawan RSIA yang baru menginjak usia ke-6 itu.

Kegiatan didukung oleh PT Pfizer Indonesia. Dimulai sejak pukul 10 pagi hingga 12 siang. Selesai acara dilakukan pengundian doorprize. Yakni 10 voucher belanja masing-masing senilai Rp100 ribu.

Sebelum materi disampaikan terlebih dahulu dilakukan penayangan company profile RS rujukan ibu dan anak tersebut. Sesi tanya jawab tak ketinggalan dilakukan.

Empat peserta dari rumah dipersilakan mengajukan pertanyaan masing-masing sesuai rasa penasaran dan keresahan yang dialami. Marketing Manager Dadi Yudi SE bertindak selaku ketua panitia dalam kegiatan kemarin.

“Karena sedang pandemi, seminar kita lakukan secara virtual. Berbeda dengan seminar sebelum-sebelumnya yang biasa diselenggarakan di hotel,” kata Yudi. (ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *