Sungai Sukalila Kawasan Bisnis sejak Zaman Belanda

oleh -57 views
Foto salah satu pengusaha keturunan Tionghoa Cirebon, Lie In Gwan atau Basuki Abdul Kadir bersama dengan keluarganya. FOTO: KHAIRUL ANWARUDIN/RADAR CIREBON

CIREBON-Sejak zaman penjajahan Belanda, Sungai Sukalila mempunyai peranan penting dalam perdagangan dan bisnis. Banyak toko-toko yang berada di sepanjang Jalan Kalibaru dan Sukalila. Hal ini tak lepas dari keberadaan makam Tumenggung Arya Wiracula atau Tan Sam Tjay, tokoh terkemuka masyarakat Tionghoa di Cirebon.

Hal tersebut membuat usaha yang digeluti oleh masyarakat Tionghoa di Kota Cirebon berkembang cukup pesat. Banyak pengusaha yang mendulang sukses dengan usahanya masing-masing.

Pemerhati Budaya Tiong Hoa, Jeremy Huang mengatakan, di masa penjajahan Belanda dan Jepang, warga Tionghoa di Cirebon umumnya menggeluti bisnis seperti berjualan gula merah, gula pasir, palawija, hasil bumi, tembakao, hotel, emas dan mebel.

“Di Kali Baru juga ada toko Waring yang jual bahan pakaian. Sementara di Sukalila ada Oey Liang Kie membuka usaha bengkel croom pernekelan. Ada juga agen minyak di Kalibaru Selatan, yaitu Lie In Gwan yang merupakan ayah dari Brigjen Daniel Sofjan,” ungkapnya.

Jeremy melanjutkan, pada tahun 1920 sampai 1970-an, di kawasan Kalibaru dan Sukalila banyak toko toko yang berjejer di sepanjang jalan. Keberadaan makam Tan Sam Tjay membuat kawasan tersebut cukup ramai. Dimana banyak warga keturunan Tionghoa yang berziarah ke makam Tan Sam Tjay, tidak saja saat perayaan Ceng Beng.

Menurut Jeremy, sekitar tahun 1950 sampai 1970-an juga terdapat seorang ahli ramal yang berada di depan makam Tan Sam Tjay. Banyak warga yang mendatangi peramal tersebut untuk menerawang nasibnya. Menjadikan kawasan Kalibaru dan Sukalila ramai dikunjungi para pendatang. “Prinsip pengusaha Tionghoa itu, jangan sampai kulit terkena sinar matahari. Artinya, pergi ke toko sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Itulah yang membuat mereka dikenal ulet,” ungkapnya.

Menurut Jeremy, ada satu hal yang perlu dicontoh dari para pengusaha tersebut. Dimana meskipun kondisi saat itu tengah dilanda banyak cobaan, mulai dari adanya wabah flu spanyol pada masa perang dunia 1, wabah malaria pada tahun 1927-1933, hingga perang dunia kedua, namun para pebisnis itu tetap bertahan cukup lama.

“Juga pajak yang terlalu tinggi dari pemerintah kolonial Belanda juga membuat mereka terpuruk. Tapi mereka tidak mudah menyerah dalam kondisi apapun. Mereka tetap dapat menciptakan peluang di saat situasi sulit dan terhimpit,” pungkasnya. (awr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *