Pimpin Demo, Aktivis Hongkong Mengaku Bersalah

oleh -47 views
ANTIPEMERINTAH: Para aktivis prodemokrasi Hongkong demo memprotes kebijakan parlemen Tiongkok yang mengesahkan Undang-Undang Keamanan Baru untuk Hongkong beberapa waktu lalu. FOTO: AFP

HONGKONG – Aktivis prodemokrasi Hongkong, Joshua Wong mengaku bersalah atas tuduhan menggelar serta mengajak orang-orang berkumpul tanpa izin dekat markas kepolisian, untuk memprotes kebijakan pemerintah setempat tahun lalu. Atas perbuatan itu, Wong terancam kena hukuman penjara maksimal tiga tahun.

Vonis akan dibacakan oleh majelis hakum pada 2 Desember 2020, tepatnya pukul 14:30 waktu setempat. Wong merupakan ikon Umbrella Movement, aksi massa antipemerintah pada 2014, saat itu usianya baru 17 tahun. Sebelum dibawa ke tahanan, Wong berseru, “Semuanya, kalian harus bertahan! Tambah minyaknya!” ujar Wong menyebut peribahasa orang Kanton yang berarti keberanian.

Ungkapan itu kerap diserukan massa saat berunjuk rasa. Wong tidak mengaku bersalah untuk dakwaan ketiga yang menyebut ia sengaja ikut perkumpulan massa tanpa izin karena jaksa tidak dapat menunjukkan bukti. Di samping Wong, aktivis prodemokrasi Hongkong lainnya, Agnes Chow dan Ivan Lam, juga tetap ditahan setelah menjalani persidangan atas tuduhan yang sama. Keduanya turut mengaku bersalah atas tuduhan yang disampaikan oleh aparat setempat.

“Mungkin pemerintah ingin saya tetap di penjara sepanjang waktu,” kata Wong lewat pernyataan tertulisnya sebelum ia mengikuti persidangan.

“Namun, saya yakin, penjara, larangan ikut pemilihan umum, dan kekuasaan yang sewenang-wenang tidak dapat menghentikan saya untuk terus berjuang. Apa yang kita perbuat saat ini menunjukkan nilai kebebasan kepada dunia,” kata dia.

Puluhan pendukung Wong berkumpul di luar ruang sidang dan menyerukan slogan prodemokrasi serta berseru “Bebaskan Joshua Wong, Agnes Chow, dan Ivan Lam!” Wong bukan tokoh utama saat aksi anti-Tiongkok dan pro demokrasi pada tahun lalu, tetapi aktivitasnya mengadvokasi nilai-nilai kebebasan di Hongkong membuat geram Tiongkok. Beijing menyebut Wong sebagai “tangan hitam” atau antek-antek asing.

Aktivis muda itu membubarkan partai politiknya, Demosisto, pada Juni 2020, beberapa jam setelah parlemen Tiongkok mengesahkan Undang-Undang Keamanan Baru untuk Hongkong. UU baru itu menghukum siapapun yang dinilai terlibat subversi, makar, terorisme, dan kolusi dengan pasukan bersenjata asing, dengan ancaman penjara sampai seumur hidup.

Wong saat ini juga menghadapi tuduhan ikut perkumpulan massa yang tidak dilengkapi izin pada Oktober 2019 dan 4 Juni 2020, yaitu saat acara peringatan tragedi Tianmen pada 1989. Otoritas setempat pada awal tahun ini mendiskualifikasi Wong dan 11 politisi pro demokrasi lainnya untuk mencalonkan diri pada pemilihan dewan kota Hongkong tahun ini. Walaupun demikian, pemilihan tersebut masih ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan karena adanya pandemi Covid-19.

Wong telah mendekam selama lima minggu di penjara tahun lalu, karena diyakini ia telah menghina pengadilan. Ia dibebaskan pada 16 Juni 2020 saat aksi massa telah memuncak. (ant/dil/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *