Organisasi Islam Terkaya Dunia dengan Pemimpin Paling Sederhana di Dunia

oleh -5.705 views
Fathan Mubarak

MHAMMADIYAH memiliki puluhan ribu amal usaha, 30 juta hektare tanah wakaf, dan ratusan triliun rupiah dalam rekening. Muhammadiyah juga menghidupi 318 panti asuhan, 54 panti jompo, dan 82 pusat rehabilitasi cacat. Semua patut disyukuri.

Warga perserikatan sendiri boleh bangga dengan Muhammadiyah yang kini sudah sangat mandiri dan kaya. Tapi, terus terang saya lebih bangga pada satu tokoh Muhammadiyah yang luar biasa luhur dan cemerlang namun sangat miskin.

Namanya Abdul Rozak Fachruddin. Pak AR—demikian ia biasa disapa, adalah ulama kelahiran Yogyakarta 14 Februari 1916. Ayah Pak AR, KH. Fachrudin, seorang penghulu di Puro Pakualaman, sedang ibunya, Maimunah binti KH. Idris Pakualaman, merupakan seorang nyai dan pengusaha batik.

Sejarah hidup Pak AR adalah sejarah pamomong: belasan tahun blusukan di pedalaman-pedalaman luar Jawa untuk merintis sekolah-sekolah Muhammadiyah, melatih Hizbul Wathan, bergabung dengan BKR Hizbullah, dan kembali ke Jawa sebagai pendakwah, pamong desa Galur, dan pegawai Departemen Agama.

Pak AR tak kalah patriot dari seorang guru dan wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah Banyumas yang kemudian dikenal sebagai Panglima Besar Jenderal Soedirman. Pada masa Belanda melakukan apa yang oleh Radio Netherlands Worlwide sebut sebagai “aksi polisionil” di Indonesia, Pak AR turut bergerilya. Ia keluar masuk hutan dengan memanggul senjata. Bertahan, menyerang, mengintai, mengendap-endap, mengepung, juga tentu saja diburu dengan dihujani peluru. Pak AR, dalam kalimat yang pernah diucapkan orang tua saya; sejuk dan teduh dalam dakwah, namun singa di medan laga.

Usai Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia melalui KMB, Pak AR pindah ke Kauman. Ia kembali nyantri pada para tokoh generasi awal seperti Ki Bagus Hadikusumo, Bagir Saleh, Basyif Mahfudz, Ahmad Badawi dan Badilah Zuber. Pak AR sempat menjadi pegawai di kantor Jawatan Agama di Yogyakarta sebelum akhirnya hijrah ke Semarang dan bingung: ia yang mendaftar sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi, justru diterima sebagai dosen luar biasa bidang studi Islamologi di Unissula, FKIP UNDIP, dan Sekolah Tinggi Olahraga.

Pak AR berMuhammadiyah dengan paripurna. Ia berkhidmat dari mulai ranting, cabang, daerah, wilayah, hingga pada Muktamar Muhammadiyah ke-37, terpilih menjadi ketua PP Muhammadiyah. Namun Pak AR menolaknya. Ia mempercayakan amanat tersebut pada KH. Faqih Usman. Pak AR mulai menjabat sebagai ketua PP Muhammadiyah pada 1968 menggantikan KH. Faqih Usman yang meninggal hanya seminggu setelah menjadi ketua PP Muhammadiyah. Muktamar-muktamar selanjutnya selalu mempercayakan Muhammadiyah pada Pak AR. Baru pada tahun 1990, Pak AR menolak kembali dicalonkan—Pak AR adalah ketua Muhammadiyah terlama di sepanjang sejarah oraganisasi ini.

Tapi Pak AR adalah Pak AR. Dengan pengaruh dan kharismanya yang luar biasa, dengan segala sumberdaya selama 22 tahun menjadi orang nomor satu di organisasi Islam terkaya dunia, Pak AR tetaplah sosok sederhana. Ia zahid di manapun berada, wara’ di segala cuaca. Ia selalu menolak tiap amplop seusai ceramah. Ia berkali-kali menampik tawaran rumah dan mobil dari para saudagar dan perusahaan-perusahaan.

Ia, meski dihormati oleh berbagai kalangan lintas agama termasuk para pejabat dari RT hingga presiden, tetap hanya seorang “kiai kampung” yang di depan rumahnya kerap melayani bensin eceran.

Rumah itu milik Muhammadiyah. Ia mendiaminya sejak 1971 setelah pindah dari sebuah kontrakan sederhana di Kauman nomor 260. Saat menjadi kepala Kantor Agama Jawa Tengah di Semarang tahun 1959-1964, Pak AR pernah berkeinginan memiliki rumah sendiri. Tanah warisan dari ibunya pun ia sewakan sepuluh tahun untuk membeli rumah.

Namun rupanya Pak AR ditakdirkan menjadi ulama yang, meminjam istilah penyair WS. Rendra, berumah di angin: Pak AR tertipu pengembang yang membawa lari uangnya. Istri Pak AR selalu menitikkan air mata setiap kali ingat pernah menanyakan nasib rumah itu. “Wis ora usah dirembug maneh. Sesuk bakal diijoli omah sing luwih apik neng suwargo.”

Di rumah pinjaman itulah, pada suatu siang di awal tahun 70-an, Walikota Yogyakarta mengunjungi Pak AR. Ia mendapat perintah dari Soeharto agar meminta kesediaan Pak AR untuk menjadi anggota DPR RI. Pak AR menolak halus. Pak AR menyebut bahwa ia sudah cukup sibuk dengan para santri Mu’alimin dan berbagai kegiatan dakwah lainnya. Termasuk kegemarannya mengisi pengajian-pengajian di bantaran Kali Code dan kampung-kampung di lereng merapi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *