Pengalaman Pertama Terjun ke Dunia Politik

oleh -93 views
Affiati SPd Ketua DPRD Kota Cirebon

“Masuk ke dunia politik bagi saya ini pengalaman pertama, semuanya serba baru. Dari mulai mengikuti pencalegan, kampanye, pileg, terpilih sebagai DPRD, dan menjadi Ketua DPRD,” Affiati SPd, Ketua DPRD Kota Cirebon

MENJADI seorang ibu rumah tangga merangkap guru di lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD), Tidak terpikirkan sebelumnya oleh Affiati untuk dapat memimpin lembaga legislatif di Kota Cirebon. Terjun ke dunia politik pada Pileg 2019 yang lalu, bahkan menjadi pengalaman pertamanya.

“Masuk ke dunia politik bagi saya ini pengalaman pertama, semuanya serba baru. Dari mulai mengikuti pencalegan, kampanye, pileg, terpilih sebagai DPRD, dan menjadi Ketua DPRD,” ujarnya.

Menurutnya, dia yang selama ini notabene ibu rumah tangga, dan guru. Baru menyadari bahwa di Kota Cirebon masih banyak persoalan dan cita-cita masyarakat masyarkat yang belum terselesaikan. Ini perlu mendapat bantuan dorongan agar keinginan warga difasilitasi oleh pemerintah, sehingga meneguhkan niatnya untuk menjadi wakil rakyat.

Politisi Partai Gerindra ini merasa bersyukur karena niatanya menjadi wakil rakyat, dimudahkan jalan langkahnya hinga bisa masuk ke Griya Sawala, bahkan sampai ditugaskan partainya menjadi Ketua DPRD

“Yang saya rasakan pada kesan awal menjadi Ketua DPRD, dunia politik jauh berbeda dibanding dengan latar belakang saya sebagai guru. Walaupun tujuanya sama membangun dan memajukan masyarakat, meningkatkan kesejahteraaan, tapi teknis jalanya saja yang berbeda,” tuturnya.

Dalam memimpin lembaga DPRD, Affiati menyadari arena di dalamnya 35 angota DPRD dengan segala karakter yang berbeda-beda, berbeda partai, berbeda pemikiranya, dan tentu berbeda kepentinganya. Setiap anggota DPRD punya impian masing-masing, ada yang ngotot ada yang biasa-biasa saja.

Dari awal pembahasan AKD, dia bisa mengambil pelajaran dan hikmah awal, bahwa setiap anggota DPRD itu saling mempertahankan keinginannya. Namun, berhubung saat itu dirinya masih mengamati dan mempelajari, jadi diikuti saja alurnya. “Itu pertama kali masalah yang dihadapi saya ketika menjadi anggota DPRD,” sebutnya.

Affiati lantas bertekad agar bagaimana seorang politisi harus bisa mengasah hati, dan mesti berani, tidak baper, dan tidak cepat tersinggung. Karena perdebatan dan dinamika di internal sesama anggota DPRD hanya terjadi di dalam ruangan forum saat rapat-rapat. Kelura dari ruangan, semua harus sudah bisa membaur seperti biasa dan kompak kembali.

“Saya harus terbiasa dengan situasi kerasnya dinamika di DPRD. Sempat down beberapa bulan, sampai akhirnya dari pengalaman-pengalaman itu menempa saya untuk meneguhkan hati menjalankan amanat yang telah didaulat masyarakat kepada dirinya sebagai pemimpin di lembaga legislatif, harus dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.

KINERJA DPRD TAHUN 2020

Terkait penilaianya terhadap kinerja DPRD Kota Cirebon sepanjang tahun 2020 ini, dia tidak ingin hasilnya dikatakan maksimal. Karena kalau seseorang sudah merasa puas, maka tidak mau meningkatkan kinerja.

Yang jelas, jika dia bertanya kepada rekan sesama anggota DPRD yang pernah menjabat di periode sebelumnya, mayoritas anggota DPRD menjawab bahwa kepemimpinan yang sekarang dengan periode lalu, banyak perubahan, dari segi pembahasan kinerja apapun.

Contohnya, ketika pembahasan KUA-PPAS, dia menilai tahapan dan prosesnya dibahas dengan benar. Dengan melibatkan Komisi-komisi yang ikut membahas RKA Dinas terkait, bahkan waktunya dianggap kurang panjang.

“Pengenya agak lebih lama agar detail membahasnya. Namu, jadwal dan deadline waktu yang semakin mepet, membuat pembahasanya dipadatkan, sehingga menghasilkan kesepakatan APBD 2021 yang  sudah optimal,” ujar Affiati.

Kalau dilihat dari kinerja keseluruhan, dia melihat banyak perubahan. Anggota DPRD Periode 2019-2024 sebagian besar adalah wajah-wajah baru. Namun, Affiati melihat semangat kerja yang ditunjukkan oleh masing-masing anggota DPRD sudah cukup baik, kedepanya bahkan bisa terus ditingkatkan agar lebih baik lagi.

TERKAIT HUBUNGAN DENGAN EKSEKUTIF

Affiati mengakui selama ini berupaya terus menjaga untuk tetap sinergi. Seperti yang diketahui bahwa pembahasan-pembahasan apapun harus ada kesepakatan. Sebelum acara pembahasan, persoalan yang berpotensi muncul dapat diselesaikan sebelum berangkat ke forum pembahasan.

Sebagai pimpinan harus berada di tengah-tengah antara keinginan anggota DPRD dan keinginan eksekutif. Jangan sampai keinginan DPRD dan kemampuan pihak eksekutif tidak meneumukan solusi, inilah tugas dan fungsi pimpinan untuk memjembatani keinginan-keinginan tersebut.

“Saya nggak mau saat paripurna diinterupsi, persoalan apapun harus sudah selesai sebelum rapat paripurna. Intens berkomunikai dengan Walikota, Wakil Walikota, Sekda, agar hubungan antara eksekutif dan legislatif terus harmonis di tengah dinamika yang terus bergulir,” imbuhnya.

Selain itu, dalam setiap kebijakan pengambilan keputusan di internal DPRD maupun yang kaitana kesepakatan dengan eksekutif, jalanya tidak harus voting. Walaupun proses tersebut tidak dilarang, tapi selama bisa dihindari itu bisa jadi lebih baik. (azs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *