Waspadai Super Spreader di Keluarga, Penerapan Disiplin Prokes Harus Kolektif

oleh -43 views

JAKARTA – Protokol kesehatan harus benar-benar dijaga dalam klaster keluarga. Selama ini, masyarakat menganggap lingkungan keluarga adalah yang paling aman dari penularan Covid-19. Padahal, masih memiliki ada risiko penularan. Bahkan, anggota keluarga bisa menjadi super spreader.

“Klaster keluarga muncul pada September 2020. Ketika orang menganggap keluarga adalah tempat yang paling aman. Tetapi tetap tidak steril dari kemungkinan virus masuk ke rumah. Karena masih ada kemungkinan anggota keluarga yang tertular kemudian kembali ke rumah,” kata dokter spesialis paru dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), dr Anna Rozaliyani di Jakarta, Senin (28/12).

Setiap anggota keluarga yang berkegiatan di luar rumah, lanjutnya, wajib menerapkan protokol kesehatan dengan benar. Tujuannya agar tidak pulang dengan membawa virus. Terlebih ada kemungkinan anggota keluarga yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Namun tidak menimbulkan gejala. Sehingga merasa sehat-sehat saja. Tetapi masih dapat menularkan anggota keluarga lain di rumah. “Sebaiknya setelah berkegiatan di luar sampai rumah tidak melakukan apa-apa dulu. Langsung mandi, membersihkan diri,” imbuh dokter yang menangani pasien Covid-19 di RS Darurat Wisma Atlet tersebut.

Dia menyebut anggota keluarga bisa menjadi super spreader. Yaitu pembawa virus dan bisa menularkan ke banyak anggota keluarga tanpa tahu dirinya sedang terinfeksi.

“Anak-anak bisa saja menjadi super spreader tersebut. Ini juga harus diwaspadai. Karena itu, disiplin 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) tidak boleh dilupakan. Selalu terapkan protokol kesehatan dimanapun dan kapanpun,” ucapnya.

Anna meminta masyarakat, khususnya kelompok yang berisiko tinggi ketika tertular, untuk tetap menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin. “Kasus berat dan kematian meningkat pada orang dengan penyakit penyerta. Seperti jantung, diabetes melitus, penyakit paru kronis, hipertensi, kanker, dan usia di atas 60 tahun. Satu lagi kondisi yang memperburuk. Yaitu obesitas atau kegemukan,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Letjen TNI Doni Monardo mengingatkan, disiplin protokol kesehatan Covid-19 tidak bisa dilakukan sendirian. Sebab, manfaatnya tidak akan optimal. “Saya disiplin, tapi orang di sekitar tidak disiplin. Itu tidak ada gunanya,” tegas Doni usai menghadiri rapat koordinasi dengan Satgas Penanganan Covid-19 Jawa Barat di Kodam III Siliwangi, Senin (28/12).

Menurut Doni, kedisiplinan terhadap protokol kesehatan itu harus dilakukan secara kolektif. Bahkan, protokol kesehatan adalah vaksin terbaik sebelum adanya vaksin yang siap digunakan.

“Disiplin pribadi penting. Tetapi disiplin kolektif akan jauh lebih penting lagi. Karena itu, seluruh pihak wajib menerapkan 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak),” imbuhnya.

Setiap daerah diminta agar meningkatkan upaya pencegahan mulai dari pengoptimalan Posko Satgas Covid-19 di setiap kabupaten dan kota.

Hal itu, lanjutnya, penting untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan. Sehingga, kawasan yang belum patuh terhadap protokol kesehatan bisa terdeteksi oleh aparat.

“Deteksi kawasan yang belum patuh. Apakah itu terminal, pasar, perkantoran, bahkan di keluarga. Ini semua dibutuhkan kerja sama. Tidak bisa sendirian,” terang Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini. (rls/rh/fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *