Mengenal Sejarah Hanzi dan Hou Fu di Situs Batu Tulis Ciawijapura

oleh -107 views

CIREBONDesa Ciawijapura, Kecamatan Susukanlebak, Kabupaten Cirebon, menyimpan pesona sejarah masa lalu. Adalah sebuah situs batu tulis.

Sebuah prasasti bertuliskan huruf Hanzi (huruf Bahasa mandarin) tercetak di tiga batu besar yang terletak di bukit kecil arah selatan desa.

Adanya prasasti ini menjadi keunikan tersendiri bagi Ciawijapura. Pasalnya, bila ditelaah dari segi geografis, desa ini bukan terletak di jalur utama perdagangan masa silam.

Sehingga, menarik untuk diteliti lebih dalam dan bisa menjadi salah satu potensi wisata sejarah di Kabupaten Cirebon.

Baca Juga: Ada BLT Rp3 Juta untuk Bumil dan Balita, Ini Dia Persyaratannya

Dari terjemahan yang terpampang di dekat batu, tulisan huruf Hanzi tersebut artinya; ‘Keresidenan Chao Zhou, Kabupaten Jie Yang Desa Xi Qi Xii, diletakkan pada tahun ke-28 Kaisar Dao Guang makam almarhum ayahanda Xii Ya Xiao Dinasti Qing, almarhum ibunda keluarga Xii bermarga (suku) Lin putra yang berbakti Qian Wan, Qian Jian, Qian Cheng, Qian Ying bersama-sama meletakkan batu’.

Kemudian, pada batu yang terletak di sebelah timur ada juga tulisan Hou Fu yang artinya Dewa Bumi. Sedangkan satu batu yang terletak di sebelah selatan bertuliskan Xii Shi Zu.

Baca Juga: Siap-siap, Tarif Tol Kanci Pejagan Naik 17 Januari

Menurut Kuwu Desa Ciawijapura, Maman Suherman, berdasarkan data dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten, situs tersebut dinamakan Batu Tulis. “Batu ini sudah ada sejak saya masih kecil,” tuturnya saat Tim Asal Gowes Radar Cirebon Group mendatangi lokasi situs tersebut, Sabtu (9/1).

Keberadaan situs Batu Tulis di Desa Ciawijapura menjadi latar belakang Maman menjadikan desa yang tengah ia pimpin sebagai desa wisata. “Tahun 2020 lalu, kami fokus untuk penataan kawasan wisata Situs Batu Tulis. Tahun ini pun kami akan lanjutkan,” katanya.

Baca Juga: Truk Kontainer Terguling, Pantura Indramayu Macet Arah Jakarta dan Cirebon

Untuk mendukung pembangunan kawasan desa wisata dengan ikon Situs Batu Tulis, Maman mengungkapkan, perlu  akses jalan yang representatif, sehingga mampu dilalui berbagai jenis kendaraan. “Memang jalan sudah ada, tapi hanya untuk kendaraan roda dua,” ungkapnya.

Selain itu, agar kawasan wisata ini lebih menarik lagi, perlu ada wahana baru. Misalnya, kawasan wisata kuliner untuk mengakomodir pengunjung yang ingin beristirahat sambil menikmati makan dan minuman. “Masih banyak yang perlu ditata agar wisata Situs Batu Tulis ini menjadi primadona,” bebernya.

Namun, yang menjadi kendala adalah minimnya dukungan dan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Cirebon. Sebab, jika mengandalkan anggaran dari Dana Desa, tidak cukup.

“Kami berharap ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Cirebon, karena situs tersebut peninggalan sejarah yang perlu dirawat dan dilestarikan,” pungkasnya. (jun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *