Kehamilan di Masa Pandemi: Apa yang Perlu Diketahui?

oleh -80 views
dr Yuven Satya Pratama SpOG

SETAHUN sudah lamanya dunia berperang melawan pandemi yang disebabkan oleh infeksi Corona Virus Disease-19 (Covid-19). Indonesia sendiri masih menunjukkan peningkatan kasus, baik kasus baru maupun kasus kematian akibat infeksi Covid-19.

Berbagai upaya telah dilakukan dalam memutus penyebaran dan penularan Covid-19. Antara lain, dengan melakukan protokol kesehatan 5M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas), serta pelaksanaan vaksinasi yang telah mulai dilakukan.

Mudahnya penularan Covid-19 tentu saja membuat kekhawatiran pada berbagai pihak. Mulai dari para tenaga kesehatan, serta pasien dan keluarga yang akan berkunjung pada fasilitas kesehatan. Meskipun begitu, kunjungan ke fasilitas kesehatan tidak dapat ditunda pada beberapa keadaan. Seperti pada kehamilan yang membutuhkan perawatan antenatal untuk melihat perkembangan janin selama kehamilan. Tentu saja, dalam masa pandemi ini, perlu dilakukan beberapa penyesuaian bagi para ibu hamil dalam memeriksa kandungannya, hingga proses kelahiran.

Apa sajakah itu? Mari kita bahas satu per satu.

1. Pemeriksaan Antenatal

Sebelum masa pandemi, berdasarkan anjuran WHO pada tahun 2016, kunjungan ke dokter kandungan atau bidan dilakukan setidaknya 8 kali, yaitu 1 kali pada trimester pertama, 2 kali pada trimester kedua, dan 5 kali pada trimester ketiga. Sedangkan, pada masa pandemi ini, kunjungan wajib dikurangi menjadi 6 kali, yaitu 1 kali pada trimester pertama (akhir usia kehamilan 12-13 minggu), 1 kali pada trimester kedua (saat usia kehamilan 20 minggu), dan 4 kali pada trimester ketiga (saat usia kehamilan 28 minggu, 32 minggu, 36 minggu, dan setelah 37 minggu).

Selain itu, metode konsultasi di luar pemeriksaan antenatal wajib di atas, diubah dari tatap muka langsung menjadi konsultasi secara daring pada beberapa fasilitas kesehatan. Cara ini diharapkan dapat mengurangi risiko penularan antaribu hamil dan petugas kesehatan.

Pada saat kontrol kehamilan di trimester ketiga (usia kehamilan di atas 28 minggu), ibu hamil perlu diajarkan untuk menghitung gerakan janin secara mandiri. Normalnya, ibu hamil dapat merasakan minimal 10 gerakan dalam 2 jam. Jika dalam 2 jam pertama gerakan janin belum mencapai 10 gerakan, dapat diulang pemantauan pada 2 jam berikutnya sampai maksimal 12 jam (6 kali pemantauan).

2. Suplementasi Selama Kehamilan

Tidak terdapat perbedaan suplementasi selama kehamilan bagi para ibu hamil sebelum dan selama masa pandemi. Suplementasi yang dibutuhkan antara lain pemberian asam folat, kalsium, vitamin D, dan zat besi.

3. Proses Persalinan

Tidak terdapat perbedaan pemilihan moda persalinan sebelum pandemi dan selama masa pandemi bagi ibu hamil tanpa infeksi Covid-19. Penentuan moda persalinan, baik secara pervaginam maupun sectio caesarea (SC) dilakukan oleh dokter ahli kandungan sesuai indikasi masing-masing kasus yang dilihat dari kondisi kehamilan menjelang persalinan. Kondisi yang perlu dinilai tentunya melihat dari faktor ibu, faktor kondisi janin, apakah ibu terinfeksi Covid-19 atau tidak, derajat keparahan infeksi Covid-19, serta risiko penularan Covid-19 yang dapat terjadi dari ibu hamil yang terinfeksi ke petugas kesehatan dan keluarga.

4. Perawatan Pasca Persalinan

Tidak terdapat perbedaan perawatan paska persalinan sebelum masa pandemi dan selama masa pandemi bagi ibu hamil tanpa infeksi Covid-19. Namun, rawat gabung tidak dianjurkan dilakukan pada ibu hamil dengan suspek Covid-19 atau yang terkonfirmasi terinfeksi Covid-19. Selain itu, bayi yang baru dilahirkan dari ibu terinfeksi Covid-19 perlu dilakukan swab diagnostik Covid-19. Bila hasil swab bayi negatif maka akan dirawat oleh anggota keluarga lain yang tidak terinfeksi Covid-19 hingga ibu sembuh dari Covid-19.

 Selain hal di atas, terdapat beberapa pertanyaan yang mungkin terbersit oleh seorang ibu hamil yang terinfeksi Covid-19. Seperti, apakah janinnya akan terpengaruh oleh infeksi Covid-19? Atau apakah infeksi Covid-19 ini akan memengaruhi keadaan ibu? Atau apakah bayi yang akan dilahirkan juga akan terinfeksi Covid-19?

Berdasarkan Royal College of Obstetrics and Gynecology (RCOG) 2020 menyatakan, bahwa kehamilan dan persalinan tidak meningkatkan risiko infeksi terhadap Covid-19. Gejala yang umum dialami ibu hamil yang terinfeksi Covid-19 ini kurang-lebih sama dengan gejala yang dialami di luar kehamilan, seperti demam, batuk, sesak, serta diare. Risiko terinfeksi Covid-19 dan derajat keparahan tentunya akan meningkat pada kehamilan dengan penyakit penyerta seperti obesitas, diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit autoimun. Berbagai penelitian pun menyatakan tidak adanya hubungan erat antara infeksi Covid-19 ini dengan gangguan perkembangan janin dan proses persalinannya kelak. Meskipun begitu, beberapa studi melaporkan adanya penularan dari ibu yang terinfeksi Covid-19 ke janinnya meskipun dalam jumlah kecil. Hingga kini, belum cukup penelitian vaksinasi Covid-19 bagi ibu hamil sehingga ibu hamil maupun perempuan yang berencana hamil atau dalam program hamil bukan merupakan prioritas penerima vaksin Covid-19 pada tahap 1 dan 2.

Sebagai simpulan, kehamilan dalam masa pandemi merupakan tantangan tersendiri bagi para ibu hamil dan tenaga kesehatan. Adanya kerja sama dan komunikasi yang baik antara dokter kandungan, bidan, dan ibu hamil merupakan hal yang amat penting dalam memastikan proses kehamilan dan persalinan yang lancar. Pola hidup sehat dengan melakukan protokol kesehatan 5M tetap perlu dilakukan oleh para ibu hamil dengan tetap berpikir positif dan melakukan pemeriksaan antenatal yang diwajibkan. Saat ini, RS Paru Sidawangi telah membuka pelayanan pemeriksaan antenatal dengan pemeriksaan USG kehamilan oleh dokter kandungan dan kebidanan. (*)

Oleh: dr Yuven Satya Pratama SpOG

(Dokter Kandungan dan Kebidanan RS Paru Sidawangi Provinsi Jawa Barat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *