Gembong Narkoba Asia Ditangkap

oleh -48 views

JAKARTA – Gembong narkoba terbesar dalam sejarah Asia, Tse Chi Lop asal Kanada, ditangkap di Bandara Internasional Schipol Amsterdam, Jumat (22/1). Penangkapan ini dipimpin Polisi Federal Australia (AFP). Dikutip dari Ruters, Senin (25/1), pria kelahiran Cina ini paling dicari di dunia. Dia dituduh memimpin operasi narkotika bernilai miliaran dolar.

Tse (57) adalah pemimpin Sindikat Sam Gor, operasi perdagangan narkoba terbesar dalam sejarah Asia. Para ahli mengatakan, dia berada di liga yang sama dengan raja narkoba terkenal El Chapo dan Pablo Escobar.

Perdagangan metamfetamin di Asia ini diyakini bernilai antara USD30 miliar (Rp421 triliun) dan USD61 miliar (Rp856 triliun) setahun. Sam Gor, yang kadang-kadang hanya disebut sebagai Perusahaan, diduga menjadi pemain terbesarnya.

“Pentingnya penangkapan Tse tidak bisa dianggap remeh. Ini besar dan (sudah) lama terjadi,” kata Perwakilan Regional Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC) di Asia Tenggara dan Pasifik, Jeremy Douglas.

Douglas pun mengapresiasi penangkapan Tse. Menurutnya, lebih banyak yang harus dilakukan untuk memastikan para gembong narkoba tidak dapat mengambil keuntungan dari pengawasan pemerintah yang buruk di daerah-daerah di Myanmar dan Laos.

“Meskipun mengesampingkan masalah kepemimpinan sindikat, kondisi yang secara efektif mereka gunakan di kawasan itu untuk berbisnis tetap belum terselesaikan, dan jaringan tetap ada. Banyak informasi sulit yang akan keluar,” terangnya.

Dapat disampaikan, organisasi tersebut dituduh menjalankan kerajaan pembuat obat sintetis di sebagian besar hutan yang tidak diawasi di Myanmar. Wilayah yang dirusak oleh perang saudara dan masih di bawah kendali berbagai panglima perang dan milisi yang bersaing. Kondisi ini menyembunyikan operasi pembuatan obat skala besar dari penegakan hukum.

Dari sana, Sam Gor diduga dapat memperoleh bahan kimia prekursor dalam jumlah besar, bahan untuk membuat obat sintetis, dan kemudian memindahkannya ke seluruh wilayah ke pasar terdekat di Bangkok. Lalu meluas ke pasar yang lebih jauh di Australia dan Jepang.

Menurut seorang pejabat yang mengetahui langsung penyelidikan tersebut, Sam Gor diduga memiliki operator yang bekerja di seluruh dunia, dengan pemain di Korea Selatan (Korsel), Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat (AS).

Dokumen-dokumen tersebut menggambarkan Sam Gor sebagai jaringan seperti tiga serangkai (rujukan untuk geng etnis Cina yang beroperasi di Asia dan Amerika Utara, tetapi lebih mobile dan dinamis).

Keberadaan kelompok tersebut terungkap pada tahun 2016 setelah seorang pengedar narkoba Taiwan ditangkap di Yangon, Myanmar, dalam penjelasan tersebut.

Investigasi lebih lanjut mengungkapkan pada 2018, organisasi ini menghasilkan antara USD8 miliar (Rp112 triliun) dan USD17,7 miliar (Rp248 triliun) dari hasil ilegal setahun. Organisasi ini menggunakan kasino di Asia Tenggara untuk mencuci sebagian besar hasil penjualan tersebut.

“Surat perintah dikeluarkan untuk penangkapan Tse pada 2019 sehubungan dengan operasi yang menargetkan Sam Gor. Sindikat tersebut menargetkan Australia selama beberapa tahun, mengimpor dan mendistribusikan narkotika ilegal dalam jumlah besar, mencuci keuntungan di luar negeri dan hidup dari kekayaan yang diperoleh dari kejahatan,” kata AFP dalam sebuah pernyataan.

Tse diduga menjalankan operasi bernilai miliaran dolar dari Hong Kong, Makau, dan Asia Tenggara. Tapi namanya atau keberadaannya tidak diketahui publik sampai dia diungkapkan oleh investigasi Reuters yang diterbitkan pada 2019.

Juru bicara kepolisian Belanda Thomas Aling mengatakan, Tse diperkirakan akan diekstradisi setelah menghadap hakim. Pihak berwenang di Belanda tidak dapat memberikan rincian tentang proses hukum dan tidak jelas apakah Tse memiliki pengacara.

Ini bukan pertama kalinya Tse berurusan dengan penegakan hukum. Sebelumnya Tse mengaku bersalah atas tuduhan kejahatan narkotika di AS pada 2000 dan dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara.

Rincian seputar kasus itu terbatas karena masih disegel, tetapi sumber tersebut mengatakan dia dibebaskan pada 2006 dan kembali ke Kanada sebelum pindah ke Hong Kong. (der/fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *