Treatment bagi yang Trauma Jarum Suntik

oleh -21 views

JAKARTA – Diperlukan pendekatan psikologis terhadap masyarakat yang trauma terhadap jarum suntik. Hal ini dinilai penting demi kelancaran pelaksanaan vaksinasi Covid-19.

“Kalau trauma itu agak sulit juga. Kita harus melakukan treatment secara singkat. Karena trauma yang ditimbulkan jarum suntik itu membekas dalam kehidupan,” kata Ketua Ikatan Perawat Indonesia (IPI), Harif Fadhillah di Jakarta, Minggu (24/1).

Tenaga kesehatan yang berperan dalam memberikan vaksin kepada masyarakat diimbau untuk memberi contoh dalam bentuk gambar. Tujuannya memberikan informasi bagi masyarakat bahwa proses penyuntikan tidak menimbulkan masalah.

“Tidak bisa dibilang jangan takut. Harus ada pendekatan psikologis dan pendampingan. Selain itu juga bisa disampaikan contoh-contoh gambar bahwa orang yang disuntik tidak terjadi masalah apa-apa. Kalau orang yang traumatik tidak bisa begitu saja disuntik,” ucapnya.

Harif optimistis masyarakat Indonesia yang trauma terhadap jarum suntik jumlahnya sedikit. Alasannya, sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini telah memiliki pengalaman dengan program vaksinasi.

“Saya kira tidak banyak yang takut jarum suntik. Karena pengalaman hidup masyarakat. Mereka hidup sejak 1960-an, di mana negara sudah banyak program vaksinasi dan pengalaman itu sudah ada,” jelasnya.

Berdasarkan pengalaman Harif yang telah disuntik vaksin COVID-19, tidak ada gejala apapun yang dialami. “Seperti disuntik normal saja. Setelah divaksin saya tidak merasakan apa-apa,” tuturnya.

Harif menyebut metode penyuntikan vaksin Covid-19 ditancap menembus jaringan otot. Hal itu tidak terlalu memberikan rasa sakit. Berbeda dengan proses penyuntikan untuk mendeteksi penyakit TBC yang menembus hingga ke dalam jaringan kulit.

Metode penyuntikan pun didasari atas kandungan dosis yang akan diterima tubuh pasien. “Misalnya suntik di Puskesmas dengan cairan dosisnya lebih banyak. Kalau ini vaksin Covid-19 cuma 0,5 mili. Seperti disuntik vitamin biasa dan prosesnya cepat. Meski sudah divaksin, disiplin 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) tetap wajib dilakukan. Kita semua harus mematuhi dan melaksanakannya,” tandasnya. (rh/fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *