Kisah Watmi (80), Janda Sebatang Kara yang Terpaksa Tinggal di WC Umum

oleh -1.499 views
SEBATANG KARA: Watmi (80) bersama Warga Mundu Pesisir, Hasan Basri di depan WC umum yang ditempatinya, belum lama ini. FOTO: Deny Hamdani/ Radar Cirebon

Watmi (80) adalah janda sebatangkara. Tidak mempunyai anak dan sang suami telah meninggal dunia. Tidak memiliki tempat tinggal, Watmi terpaksa tinggal sebuah WC umum yang sudah tidak digunakan di Desa Mundu Pesisir. Watmi sudah dua minggu menempati WC umum tersebut setelah keponakannya tidak ada yang menampungnya.

Deny Hamdani, Cirebon

USIA yang sudah tidak lagi muda. Kulitnya keriput, dan rambutnya tidak lagi berwarna hitam. Watmi warga Desa Mundu Pesisir tampak terlihat di sebuah WC umum. Watmi bukan ingin buang air kecil ataupun besar. Namun WC umum yang sudah tidak terpakai oleh para nelayan ini menjadi kediaman barunya.

Sudah sekitar dua minggu Watmi dengan terpaksa tinggal sebuah  WC umum. Watmi terpaksa berlindung di sebuah WC umum agar tidak kehujanan dan bertahan dari udara dingin malam hari, setelah sebelumnya beberapa keponakan Watmi sudah tidak bisa lagi menampung Watmi.

Watmi mengatakan dirinya sudah tidak lagi bersama suami sejak sang suami meninggal dunia beberapa tahun lalu.

Watmi menjelaskan ketika suaminya masih hidup hingga meninggal, dirinya dan suami menumpang hidup di keponakannya. “Waktu suami masih ada, saya tinggal sama keponakan sampai suami saya meninggal juga saya masih di keponakan,”tuturnya.

Sejak suami meninggal, dirinya sudah berpindah tempat tinggal dari satu keponakan, ke ponakan lainnya. Sampai kepada keponakan yang terakhirnya sudah tidak bisa menampung Watmi. “Yang terakhir saya diusir sama ponakan saya, terus saya cari tempat tinggal, dan di WC umum ini sudah tidak dipakai akhirnya saya tinggal di sini,”ungkapnya.

Watmi merupakan keturunan warga yang tergolong mampu. Karena orang tuanya memiliki banyak rumah dan tanah. Namun Watmi sama sekali kini merasakan harta warisan orang tuanya. “Saya nggak pernah memakan warisan, saya nggak pernah ambil hak dari warisan, karena warisan semuanya sudah dijual,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Untuk menyambung hidupnya, Watmi tidak ingin hanya mengandalkan bantuan orang. Watmi rela banting tulang di masa tuanya dengan berjualan telur pindang. “Saya keliling jual telur pindang, lumayan sehari laku tiga kilo,”tuturnya.

Watmi mengatakan saat berjualan dirinya tidak memiliki modal. Namun mengambil telur dahulu, lalu dibayarkan setelah dagangannya laku terjual. “Lumayan sehari saya bisa dapat uang 17 ribu, 15 ribu. Bisa untuk makan dan minum. Karena dagangan saya juga nggak banyak cuma tiga kilo jadi untungnya juga segitu,” tuturnya.

Watmi mengungkapkan WC umum yang sudah tidak terpakai tersebut yang dahulu kotor namun kini terawat dengan baik selama dirinya tinggal di tempat itu. “Coba buka pintunya masuk bersih, saya nggak jorok saya bersihkan,”ujarnya sambil membuka pintu WC.

Salah satu warga Mundu Pesisir, Hasan Basri mengatakan WC umum tersebut merupakan bantuan dari Pemerintah untuk para nelayan yang sudah tidak terpakai. “Sudah berdiri lima tahun, namun tiga tahun sudah tidak dipakai lagi,”tuturnya.

Hasan mengungkapkan dirinya dan warga lainnya merasa prihatin dengan kondisi Watmi yang terpaksa mendiami WC umum tersebut. “Saya khawatirnya bu Watmikan sudah tua 80 tahun, nah kalau sakit atau ada sesuatu itu bagaimana, sedangkan dia tinggal sendirian di MCK itu,”ujarnya.

Hasan mengungkapkan, para warga juga turut membantu membersihkan WC umum tersebut agar setidaknya bisa didiami oleh Watmi walaupun memang tidak layak. “Di sini warga juga ikut membersihkan WC umum, karena bu Watmi mau tinggal disini,”tuturnya.

Begitupun dengan listrik, para nelayan yang membayar listrik yang menerangi WC umum yang ditempati Watmi. “Listrik ini juga nyambung sampai dermaga perahu, listrik nelayan yang bayarnya, jadi tidak membebani ibu Watmi,”ungkapnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *