RSP Sidawangi Rumah Sakit Rasa Villa, Berhasil ‘Goda’ FK Unpad dan DPRD

oleh -50 views
BAK TEMPAT WISATA: Suasana Rumah Sakit Paru Sidawangi, Kabupaten Cirebon. Penataan yang dilakukan membuat RSP Sidawangi nyaman dan seperti tempat wisata. FOTO: YUDA SANJAYA /RADAR CIREBON

Damai. Suasana itu yang langsung terasa begitu memasuki tempat ini. Sejuknya udara pegunungan seolah melengkapi. Tak ada kesan berkunjung ke rumah sakit. Serasa sedang memasuki komplek vila di tempat wisata.

Yuda Sanjaya, Cirebon

PEPOHONAN pinus menjulang tinggi seolah menyambut siapapun yang masuk ke komplek Rumah Sakit Paru (RSP) Sidawangi, Kabupaten Cirebon. Rumah sakit, rasa villa.

Panorama alam dari ketinggian berlatar Gunung Ciremai, benar-benar membuat takjub. Rumah sakit unik ini, berada di perbatasan Kabupaten Cirebon dan Kuningan.

Luas lahannya mencapai 10 hektar. Unik. Cantik. Masih sangat alami. Yang tak kalah menarik adalah Caffe Raos yang lokasinya persis di depan rumah sakit. Serasa benar-benar sedang berwisata.

Rumah sakit ini, memang sedang dipersiapkan menjadi Green Hospital. Juga RS Syariah. Upaya pengembangan ini, digawangi Direktur RSP Sidawangi, dr Lucya Agung Susilawati MARS.

Ia sungguh-sungguh termotivasi mengembangkan rumah sakit ini. Agar lebih dikenal. Juga lebih dimanfaatkan oleh masyarakat. Apalagi, rumah sakit ini milik provinsi.

“Berawal dari adanya beberapa pertanyaan menggelitik: Rumah Sakit Paru Sidawangi teh dimana?” tukas Lucya bercerita, kepada Radar Cirebon.

Dari pertanyaan itu, ia bertekad mengembangkan pelayanan. Yang semula hanya pelayanan paru, penyakit dalam dan anak, ia kemudian mulai merekrut pelayanan jiwa, bedah, obgyn, rehabilitasi medik, patologi anatomi dan pelayanan medical check up.

“Duh, meuni sedih ketika ada yang tidak tahu Rumah Sakit milik Provinsi Jawa Barat,” tutur Lucya, kembali mengungkapkan alasannya, mengapa ia begitu menggebu-gebu mengembangkan rumah sakit ini.

RSP Sidawangi sesungguhnya didirikan pada 21 November 1939. Usianya sudah 82 tahun.

Dari upaya pengembangan yang dilakukan, juga promosi dan sosialisasi terus menerus, akhirnya ia pun berhasil ‘menggoda’ dan ‘menarik’ perhatian sejumlah pihak.

Kepala Prodi Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) FK Unpad berkunjung ke RS Paru Sidawangi. Kemudian kunjungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon, Dinkes Kabupaten Sumedang, DPR Jakarta, DPRD Provinsi Jawa Barat, dan banyak pihak lainnya.

“Ada PR saya yang belum terlaksana. “Menggoda” dan mendatangkan Pak Gubernur sebagai ownernya dan berharap dukungan beliau untuk mewujudkan mimpi saya agar RS Paru Sidawangi menjadi Hospital Tourism dengan Pelayanan Holistik Komprehensif. Semoga suatu saat terwujud,” bebernya.

“Rumah sakit ini memendam banyak potensi untuk digali. Tidak hanya potensi pengembangan rumah sakitnya, tapi potensi alamnya pun sangat kaya dan ini tidak dimiliki rumah sakit lainnya,” imbuhnya.

Bukan tanpa alasan RSP Sidawangi berusaha untuk terus dikembangkan. Dengan modal sumber daya alam, lingkungan yang asri, tentunya dapat menunjang penyembuhan pasien.

Juga penunggu pasien merasa tidak sedang berada di rumah sakit. Kesan sedang berada di villa itulah yang diharapkan dapat dirasakan, sehingga tidak menimbulkan stres dan kejenuhan.

Dan suasana itu, benar-benar terbangun. Baik dari alam maupun fasilitas yang dibangun. Termasuk spot yang instagramable.

Lucya mengatakan RSP Sidawangi kini sudah berubah drastis. Tampilan rumah sakit peninggalan era kolonial tersebut kini jauh lebih cantik.

Perlahan tapi pasti, RS Paru Sidawangi kini mulai bertransformasi menuju rumah sakit umum dengan unggulan paru. Ada yang penasaran seperti apa Rumah Sakit Sidawangi? Datang dan buktikan sendiri. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *