Rekonstruksi, Begini sang Kakak Bunuh Adik ODGJ Bermula

oleh -359 views
Rekonstruksi-Kakak-Bunuh-Adik
REKA ULANG: MR mempraktikkan saat membacok kepala adiknya (pemeran pengganti) lewat reskonstruksi yang digelar penyidik Polres Cirebon Kota pada Kamis (25/2). Foto: Ist

CIREBON – Kronologi kasus pembunuhan yang dilakukan seorang kakak terhadap adiknya yang tergolong orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) terkuak. Penyidik Polres Cirebon Kota (Ciko) menggelar rekonstruksi untuk memperjelas jalan cerita peristiwa kriminal itu.

Peristiwanya November 2020 lalu. Di Desa Kalitengah, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon.

Rekonstruksi polisi itu menggambarkan sedikitnya 12 adegan. Dimulai dari buang air besar (BAB) di pinggir Sungai Kaligawe, lalu sang adik tiba-tiba menyerang sang kakak.

Si adik bernama Wadi (17) sementara sang kakak berinisial MR (35). Ya, November 2020 itu, MR mengajak adik yang ia sayangi itu ke pinggir Sungai Kaligawe. Untuk buang air besar.

Di sana, keduanya duduk tak berjauhan di sisi sungai. Tak lama setelah buang air besar, Wadi bergegas ke rumah dengan alasan mengambil sajam jenis badik untuk mengupas mangga.

Pertengkaran terlihat pada adegan keenam. Ketika Wadi kembali ke piggir sungai dengan membawa badik. Ia tiba-tiba memukul kakaknya. MR pun tersentak.

Ternyata serangan secara tiba-tiba itu membuatnya kesal. Begitu Wadi hendak pergi, MR langsung membacok bagian kepala sebanyak tiga kali menggunakan badik. Korban pun seketika jatuh dan terlentang.

Tak sampai di situ, MR mengangkat kepala adiknya dan mencoba menusukkan badik ke ulu hati. Namun tusukan itu tidak tembus ke kulit karena terhalang baju. Sehingga, korban masih hidup.

Hingga pada adegan kesembilan, terlihat tersangka menggorok tenggorokan korban dengan menggunakan badik. Tujuannya agar korban langsung meninggal dunia.
Dan, aksi nekat itu langsung membuat korban meninggal dunia.

MR sendiri langsung kabur setelah membuang badik di sungai di lokasi kejadian. Tubuh adiknya dibiarkan di lokasi kejadian hingga akhirnya ditemukan warga.

“Rekontruksi dilakukan dengan 12 adegan. Dari mulai korban dan tersangka keluar rumah, hingga tersangka menyerahkan diri kepada kami. Dari rekonstruksi itu terkuak kalau emosi tersangka (MR) sudah memuncak karena tiba-tiba diserang adiknya. Saat itu korban kumat karena gangguan jiwa,” kata Kapolres Cirebon Kota (Ciko) AKBP Imron Ermawan yang disampaikan oleh Kasubag Humas Iptu Ngatidja.

Wadi memang mengalami gangguan jiwa. Kalau kambuh, kerap menyerang anggota keluarga atau warga. Ia sering membawa senjata tajam.

Keluarga pun harus ekstra menjaganya. Mengawasinya. Itu pula yang dilakukan MR, sang kakak.

MR lah yang kerap menjaga Wadi. Mengasuhnya dengan baik. Dengan sabar.

Tapi, entah kenapa, kesabaran itu seperti hilang. Minggu 15 November 2020, MR lah yang justru membunuh adiknya sendiri.

MR sendiri kabur dan baru diamankan 10 Februari kemarin saat ia pulang ke rumah.
Memang kepulangan MR dilaporkan ke polisi. Akhirnya ditangkap.

“Ini Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang kakak kepada adik kandungnya. Sang adik mengalami gangguan kejiwaan. Ke mana-mana bawa parang dan sering mengamuk. Kakak mengambil keputusan sendiri dengan membunuh korban,” papar AKBP Imron Ermawan saat menghadirkan MR pada jumpa pers, Kamis (25/2).

Kapolres mengatakan, keluarga MR termasuk kategori keluarga kurang mampu. Mereka tak punya biaya untuk mengobati Wadi yang mengalami gangguan jiwa.

Hingga bertahun-tahun lamanya Wadi hanya diawasi seadanya oleh keluarga. Korban selalu kumat dan lepas kontrol untuk melakukan kekerasan. Bertahun-tahun keluarga harus bersabar. Termasuk MR. Dengan sabar ia merawat sang adik.

Namun, pada hari kejadian itulah, MR mengambil keputusan nekat. Mengakhiri hidup adiknya.

“Padahal MR ini yang mengayomi, melindungi, dan merawat korban. Mungkin MR sudah hilang kesabaran dan akhirnya melakukan pembacokan hingga korban meninggal dunia,” jelas kapolres.

Meski kakak-adik, bahkan disebut-sebut bahwa pihak keluarga legawa menerima kejadian ini, tapi polisi tetap menahan MR. Ia dijerat dengan Pasal 338 KUHPidana tentang Pembunuhan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

“Tersangka kita tahan, tetap diproses,” pungkas kapolres. (cep)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *