Misteri Alquran Kuno Majalengka Sempat Hanyut di Laut, Tiba-tiba Kembali ke Rumah

oleh -456 views
alquran-kuno-majalengka
Alquran buatan Mbah TB Latipuddin di Desa Pageraji, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka.

MAJALENGKA – Alquran kuno buatan Mbah TB Latipuddin dari Desa Pageraji, Kabupaten Majalengka, pernah hilang di laut. Anehnya, tiba-tiba mushaf itu ditemukan kembali di rumah.

Kisah ini diceritakan pewaris yang juga keturunan Mbah TB Latipuddin. Dia mengisahkan, Alquran yang terbuat dari kulit pohon itu pernah dibawa Mbah TB Latipuddin menuju pondok pesantren di Madura.

Tapi di tengah laut terkena badai ombak hingga kapal terguling, dan Alquran yang dibawa Mbah TB Latipuddin hilang tercebur ke laut.

Karena putus asa dan kecewa Alquran yang dibuatnya raib, Mbah TB Latipuddin memutuskan pulang. Tapi alangkah terkejutnya ketika sampai di rumah, Alquran tersebut sudah ada di atas pintu rumahnya.

Ridwan menceritakan, dirinya merupakan generasi ke tujuh dari Mbah TB Latipuddin yang bertekad untuk merawatnya dengan baik.

Alquran yang mulai  lusuh tersebut kerap dibaca dan dipinjam oleh saudaranya hingga khatam. Pada  Syawal atau selepas Lebaran, Alquran itu dikeluarkan pada acara haulan di komplek makam Mbah TB Latipuddin tidak jauh dari kediiamannya.

Ridwan bertekad untuk menjaga dan merawat peninggalan leluhurnya  hingga akhir hayat. Ia ingin mendirikan pondok pesantren di sekitar Makam Mbah Latipudin. Yayasan TB Latipuddin pun sudah terbentuk dan mendapatkan wakaf.

Ridwan yakin dulu leluhurnya Mbah Latipudin   memiliki pesantren. Sehingga yayasan yang  dibuatnya bernama Yayasan Mbah TB Latipudin, untuk mengabadikan nama pembuat Alquran.

“Kami  ingin  membangun dan mendirikan pondok pesantren  di  kawasan ini. Tapi  kami tidak berdaya karena keterbatasan kemampuan. Berharap ada bantuan dari pemerintah ataupun pihak swasta untuk mendirikan pesantren di Kawasan Makam Mbah TB Latipuddin,” harapnya.

Ridwan menginginkan pihaknya bisa membuat tempat yang aman dan nyaman untuk menyimpan Alquran yang pernah diperbaiki masiswa ITB ini agar bisa dilihat banyak orang.

Bahkan, banyak benda pusaka peninggalan yang tercecer,  dan bila sudah memiliki tempat khusus atau museum bisa dicari dan disimpan untuk dirawat serta dilestarikan. (ara)

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *