Pengurus: Yang Viral Stadion Bima Rawan Curanmor Itu Bohong

oleh -276 views
stadion-bima-rawan-curanmor
Suasana di pasar dadakan Stadion Bima. Foto: Apridista S Ramdhani/Radar Cirebon

CIREBON – Pendiri Forum Silaturahmi Pedagang Stadion Bima, Bambang Prawoto membantah kalau di kawasan stadion rawan pencurian sepeda motor (curanmor). Menurutnya, itu adalah isu yang dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

“Tidak ada yang hilang sampai sesering itu. Selama empat tahun ini, yang laporan ke kami sekitar 30 kali. Itu pun korban ngaku STNK-nya juga ikut hilang. Saat saya bantu mau laporan, mereka tidak ada kabar lagi,” kata Bambang kepada Radar Cirebon.

Kata Bambang, hanya 30 persen yang benar-benar kejadian kehilangan motornya. Sebagian besar sisanya adalah cipta kondisi yang dibuat oleh seorang yang tidak bertanggung jawab.

Bambang meyakini itu. Karena, selama empat tahun sebagai pengurus di Stadion Bima, kejadian tersebut jarang yang sampai ditindaklanjuti ke kepolisian.

“Sebanyak 70 persen kejadian curanmor di Bima itu isu. Cipta kondisi. Karena selama ini tidak ada kelanjutan. Saya juga pernah dipanggil dan di BAP oleh Polsek terkait kehilangan motor di Stadion Bima. Tapi, yang hilang selama empat tahun itu, hanya tujuh kejadian curanmor saja yang ditindaklanjutin sampai ke kepolisian,” tandasnya.

Bambang menyampaikan, yang sempat viral di media sosial kalau Stadion Bima rawan curanmor, itu adalah bohong.

Setiap hari ia berada di Stadion Bima dan tidak menemukan kejadian itu. Kalau pun ada, pasti pada hari Minggu. Karena, saat itu situasi ramai. Kurangnya pengawasan dan tempat parkir yang kurang teratur.

“Wajar saja kalau hari Minggu. Hilangnya motor karena keteledoran korban dan kurangnya pengawasan terhadap kendaraannya. Sebab lainnya, karena parkir yang tidak teratur dan tanpa pengawasan pihak parkir,” katanya.

Bambang juga tidak cocok dengan pengaturan diberikan karcis parkir begitu masuk pintu Bima. Itu dianggap tidak tepat pengambilannya. Karena, begitu pengendara masuk, mereka pasti akan bingung parkir di mana. Sehingga, parkir tidak teratur dan tidak ada pengawasan pihak parkir.

“Pengunjung tidak ngerti parkir di mana. Jadi ya tidak teratur dan kurangnya pengawasan. Kecuali, begitu ngasih karcis, terus motor langsung ke tempat parkir. Itu  pasti diawasi. Karena yang sering hilang parkir di pinggir GOR yang kurang pengawasan,” katanya.

Bambang menyarankan agar karcis parkir tidak diambil di pintu masuk Bima. Alangkah baiknya, disediakan tiga trek lahan untuk parkir dan diambilnya begitu motor parkir di lahan tersebut. Agar pengawasan lebih mudah dan ruang gerak kejahatan semakin sempit. (cep)

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *