Pemeriksaan Laboratorium Di bulan Ramadhan

oleh -19 views
Mike Rezeki Sugiarti

PEMERIKSAAN laboratorium dibagi menjadi tiga fase yaitu preanalitik, analitik dan pasca analitik. Kekurangsempurnaan pemeriksaan laboratorium sering terjadi di fase preanalitik berkisar antara 46-71%, fase analitik 7-13%, dan fase post analitik 19-47%. Preanalitik adalah fase sebelum sampel diterima di laboratorium termasuk persiapan pasien seperti lama waktu puasa untuk pemeriksaan parameter tertentu seperti trigliserida, cholesterol, glukosa darah, creatinin, total protein, albumin, natrium, kalium, magnesium, SGOT, SGPT, bilirubin total, bilirubin direk, laju endap darah (LED). Puasa dalam  hal ini adalah tidak mengkonsumsi makanan atau minuman kecuali air putih biasa. Lama puasa berkisar 10-12 jam tergantung parameter yang diperiksakan. Jika pasien sedang meminum obat-obatan tertentu seperti oral antidiabetik, aspirin sebaiknya menginformasikan pada petugas laboratorium, untuk ketepatan hasil pemeriksaan laboratorium. Obat yang dikonsumsi pasien seperti aspirin dapat memberikan hasil trombosit yang rendah. Laju endap darah dapat meningkat pada keadaan tidak puasa, inflamasi, perokok.

Pemeriksaan laboratorium di bulan Ramadhan sama juga seperti di bulan selain Ramadhan. Yang perlu diperhatikan adalah lama puasa sebelum pemeriksaan. Puasa yang terlalu lama lebih dari 12 jam akan mengakibatkan penurunan hasil gula darah. Jadi waktu puasa ini harus diperhatikan dengan detil.

Pemeriksaan trigliserida, cholesterol, gula darah, kretainin, total protein, albumin, SGOT, SGPT sebaiknya berpuasa dulu untuk memberikan hasil akurat. Pengambilan sampel darah sebaiknya dilakukan pada pukul 07.00 hingga 09.00 setelah pasien puasa 10-12 jam. Adapun dalam kondisi khusus di mana pasien tidak puasa selama 10-12 jam sebaiknya diinformasikan juga kepada petugas laboratorium.

Bagaimana di bulan Ramadhan ini. Pengambilan sampel di bulan Ramadhan insyaa Allaah tidak akan mengganggu jalannya ibadah puasa. Hanya pengaturan waktu yang dibutuhkan dan kejujuran dari pelanggan laboratorium dalam menginformasikan waktu puasa yang telah dilakukannya saat pengambilan darah.

Kenapa pasien yang akan dilakukan pemeriksaan laboratorium harus berpuasa terlebih dahulu? Puasa ini dimaksudkan untuk menghindari faktor interferensi yang akan mengganggu hasil laboratorium seperti merokok, diet, stress, pola hidup, obesitas, olah raga berat. Tanpa puasa dapat terjadi sampel yang tidak layak untuk diperiksa karena sampel lipemik misalnya. Sampel lipemik adalah sampel yang berwarna seperti susu keruh dapat disebabkan kadar trigliserida yang melebihi kadar normal dalam darah. Sampel lipemik ini sulit untuk dibaca pada alat karena tidak semua alat memiliki sensor deteksi pada sampel lipemik.

Hasil pemeriksaan laboratorium dipengaruhi oleh banyak faktor. Ada faktor yang tidak bisa diubah dan faktor yang bisa diubah. Faktor yang tidak dapat diubah adalah jenis kelamin, umur, demografi, dan ras. Faktor yang dapat diubah adalah diet, pola makan, stress, medication. Hanya faktor yang dapat diubah ini yang dapat kita intervensi dengan maksimal. Pemeriksaan laboratorium dapat digunakan untuk tujuan preventif, kuratif, monitoring terapi, atau evaluasi pengobatan. Idealnya setiap pemeriksaan khusus laboratorium dikomunikasikan terlebih dahulu dengan Dokter Spesialis Patologi Klinik sebagai Dokter Penanggung Jawab                                                                                Laboratorium atau petugas laboratorium untuk memberikan hasil terbaik, sehingga tidak ada pengulangan pengambilan sampel, ataupun pengulangan pemeriksaan karena semuanya sudah dikomunikasikan dengan baik.

Hasil pemeriksaan laboratorium dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu intern dan ekstern, siklus diurnal untuk pemeriksaan hormon seperti cortisol dan adenocorticotrophin, exercise, aktivitas fisik. Sehingga sebelum pengambilan darah sebaiknya seseorang yang akan diperiksa laboratorium dalam posisi duduk minimal 15-30 menit. Hasil pemeriksaan laboratorium dari waktu ke waktu dapat terjadi perbedaan, karena timing yang berbeda, waktu pengambilan sampel yang berbeda.

Kontaminasi alkohol pada saat pengambilan darah akan menyebabkan  haemolisis. Haemolisis merupakan hasil dari peningkatan kadar analit seperti kalium, laktat dehydrogenase (LDH), besi, dan magnesium pada pemeriksaan kimia laboratorium sehingga akan memberikan hasil tinggi palsu. Untuk menghindari hal ini maka alkohol yang digunakan untuk pengambilan darah diberikan seminimal mungkin dan ditunggu hingga kering baru dilakukan pengambilan darah. Pemberian alkohol dalam bentuk swab alkohol di area penusukan jarum pengambilan darah tentunya tidak akan membatalkan puasa Ramadhan.

Bagaimana dengan pemeriksaan swab di bulan Ramadhan. Bagaimana prosedur persiapannya. Pemeriksaan swab antigen maupun swab PCR di bulan Ramadhan tidak membatalkan kewajiban puasa dan tidak membuat menjadi batal ibadah puasanya. Swab Dacron sendiri terdiri dari lapisan dacron yang dimasukkan ke dalam lubang hidung hingga mencapai nasopharing dan baru diputar sebanyak 5-10 kali, tergantung insert kit dari reagen pemeriksaannya selanjutnya dimasukkan dalam virus transport medium (VTM). Untuk swab oropharing Dacron dimasukkan dalam cavum oropharing diapus di area oropharing kemudian dimasukkan dalam media transport yaitu virus transport medium (VTM). Tidak terdapat cairan atau alkohol dalam Dacron tersebut sehingga menjamin tidak ada cairan yang masuk dalam rongga mulut atau hidung. Swab Dacron ini digunakan sekali pakai bersifat steril. Setelah digunakan swab Dacron antigen dimasukkan dalam plastik berlabel biohazard dan dibuang ke sampah infeksius. Swab Dacron PCR (Polymerase Chain Reaction) dimasukkan dalam VTM untuk diproses di laboratorium Biosafety level dua.  Persiapan pemeriksaannya sendiri sama juga seperti saat di luar bulan Ramadhan, seperti tidak dianjurkan mencuci mulut dengan antiseptik, tidak menggosok gigi dengan pasta gigi sesaat sebelum dilakukan pemeriksaan swab PCR maupun swab antigen.  Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya inhibitor atau penghambat  pada antiseptik ataupun pasta gigi yang digunakan sehingga menghambat deteksi gen target pada pemeriksaan PCR atau deteksi antigen SARS-Co-Vi-2 (Seviere Acute Respiratory Syndrome Corona Virus 2.)

Semua pemeriksaan laboratorium yang dilakukan di bulan Ramadhan insyaa Allaah tidak membatalkan puasa selama tidak ada cairan atau larutan yang diminum lewat mulut. Jika pun karena keterpaksaan harus dilakukan pemeriksaan yang membutuhkan larutan yang diminum saat puasa maka puasanya hendaknya diganti pada saat di luar bulan Ramadhan.

Tidak ada yang memberatkan di bulan Ramadhan. Tinggal bagaimana sikap kita menghadapinya secara wise dan bijaksana. (*)

Oleh: Mike Rezeki Sugiarti (RS Paru Sidawangi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *