Khawatir Kekeringan, Tanam Lebih Awal

oleh -28 views
TANAM LEBIH CEPAT: Petani di Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon memulai musim tanam lebih cepat karena khawatir kekeringan. FOTO: NUR VIA PAHLAWANITA/RADAR CIREBON

CIREBON- Memasuki musim kemarau, sebagian besar petani di Kabupaten Cirebon memilih melakukan penanaman benih padi lebih awal. Hal tersebut dikarenakan pasokan air yang sudah mulai berkurang. Termasuk juga curah hujan yang sudah mulai jarang.

Petani padi asal Desa Bangodua, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, Syamsudin, mengatakan, bersama petani lain di desanya, ia memilih melakukan penanaman lebih awal. Sebab jika terlambat, ia meyakini, akan mengalami kendala yang cukup serius yakni sulit mendapatkan air untuk sawahnya. “Tanam bibit IR 64. Buru-burunya itu karena hujannya sudah mulai mengurangi. Airnya kan tidak bisa turun tiap minggu,” katanya.

Bahkan, untuk mengairi lahan sawahnya, saat ini saja ia harus menggunakan mesin pompa air. Selain itu, pihaknya juga khawatir akan langkanya pupuk subsidi. Sebab, selama menyewa lahan dirinya tidak pernah mendapatkan pupuk subsidi dari pemerintah.

Menurutnya , bibit padi yang idealnya dicabut saat berusia 25 hari, terpaksa sudah dicabut saat berumur 20 hari. Hal itu semata-mata karena takut kekurangan pasokan air.

“Ini wini (bibit padi, red) usia 20 hari, biasanya sih 25 hari, nah sekarang kan musimnya sudah masuk musim kemarau jadi tidak sampai usia 25. Dari mulai tanam usianya 20 hari dicabut, ditanamnya di usia 21 hari,” ungkapnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pertanian kabupaten Cirebon, Wasman menyampaikan, musim tanam gadu satu sudah mulai dilakukan di beberapa wilayah Kabupaten Cirebon. Di antaranya, lanjut Wasman, di wilayah selatan timur Kabupaten Cirebon seperti Sedong, Greged, Pasaleman dan Ciledug.

Untuk wilayah barat, kata dia, di Kecamatan Klangenan, Palimanan yang mempunyai pengairan dari Jamblang kiri dan Jamblang kanan juga sudah tutup tanam, serta Kecamatan Dukupuntang.

“Tinggal utara saja yang belum, lagi panen mudah-mudahan di bulan Mei,”ujar Wasman.

Guna mendukung keberhasilan musim tanam gadu satu, menurut Wasman, pupuk susbsidi dipastikan aman. Namun, untuk musim gadu dua dan tiga, masih dalam posisi tidak aman.

“Tapi kalau nanti untuk menjelang gaduh dua dan gaduh tiga, kita pasti bermasalah. Karena alokasinya berkurang, nah kita bisa aman biasanya di 30 sampai 33 ribu ton urea saja.  Nah sekarang, kemarin 19 ribu ton terus ada entrian baru menjadi 22 ribu ton, masih jauh,”terang Wasman.

Meskipun pemerintah memberikan solusi dengan mengeluarkan pupuk yang nonsubsidi, namun menurut Wasman, harganya cukup mahal, sehingga tidak terjangkau sama petani.

“Kalau yang urea subsidi Rp2.250 kalau yang non subsidi itu hampir Rp5.000 per kilogram, itu hampir dua kali lipat. Sementara sekarang HPP gabah yang gabah kering panen itu hanya Rp4.200, gabah kering gilingnya Rp5.300. Jadi sebetulnya biaya produksinya tinggi,” tutur Wasman.

Kecuali, sambung Wasman, petani mampu membeli pupuk nonsubsidi atau nanti dikombinasi dengan pupuk organik.

“Walau yang subsidi pun, petani itu harus mulai mengubah pola budidaya. Sebab,  tanah kita ini sudah karat, sudah keracunan pupuk kimia. Kan pupuk organik juga mudah dibuat. Di Cirebon kan banyak rumah potong hewan, ada kambing kan banyak. Nah sebetulnya harus seperti itu harusnya petani itu,”pungkasnya.(via).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *