Anies Lapor Wamenkes, Terkait Warganya Meninggal Usai Divaksin

oleh -74 views
survei-pilpres-2024-anies-baswedan
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Foto: Instagram

SEORANG warga DKI Jakarta meninggal dunia, sehari setelah disuntik vaksin AstraZeneca. Kabar tersebut langsung ditindaklanjuti Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melaporkan kasus tersebut ke Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono. 

Dalam laporannya Anies mengungkapkan warganya, Trio Fauqi Virdaus yang tinggal di Jakarta Timur, meninggal dunia usai vaksinasi COVID-19, AstraZeneca. “Kami menyampaikan kejadian itu kepada Pak Wamenkes agar menjadi perhatian serius,” katanya, Senin (10/5).

Ditekannya, Pemerintah harus menyikapi peristiwa tersebut dengan serius. Sebab kasus itu berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terhadap vaksin COVID-19.

Dikatakannya, sejumlah negara di Eropa membatasi usia warga yang ikut vaksinasi AstraZeneca, batasan usia 40 tahun hingga 60 tahun.

Untuk diketahui, seorang warga Viki mengisahkan adiknya, Trio Fauqi Vidaus meninggal dunia pada Kamis (6/5). Meninggalnya Trio itu sehari setelah disuntikan vaksin AstraZeneca.

Trio menjalani vaksin di GBK pada Rabu (5/5). Trio pulang ke rumah dalam rentang waktu pukul 15.30-16.30 WIB. Trio bercerita sudah melakukan suntik vaksin difasilitasi kantornya.

“Dia bercerita ke ibu saya bahwa dia baru melaksanakan suntik vaksin di GBK yang bekerja sama dengan RS Pertamina Pusat kalau nggak salah. Setelah pulang dia mengeluh nih kepada ibu saya, dia mengalami kondisi yang tidak enak setelah itu, ”kata Viki.

Viki melanjutkan, kepada sang ibu, Trio mengaku merasakan demam, sakit kepala hebat, dan pegal linu di sekujur tubuh.

“Bahwa dia mengeluhkan demam tinggi, sakit kepala hebat terus sekujur tubuhnya linu,” kata Viki.

Trio lalu dibawa ke klinik dekat rumah tinggal, tapi ternyata klinik tutup. Pada Kamis (6/5) gejala yang dirasakan Trio semakin berat. Trio sempat mengalami shock seperti kejang.

“Akhirnya dia kaget sakit kepala yang luar biasa, dia kaget seperti napasnya sudah berat, seperti sesak terengap-engap, termegap-megap, matanya itu seperti orang kejang,” ujarnya.

Pihak keluarga lalu membawa Trio ke sebuah RS di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Namun pihak rumah sakit mengabaikan agar korban dibawa ke rumah sakit yang lebih besar.

Akhirnya dibawa ke RS bersalin Asta Nugraha karena biar dilakukan penindakan UGD. Tidak sempat terjadi penolakan yang saya dengar dari pihak Asta Nugraha karena ditanyai ini apa? sakit apa? Bahwa ini habis suntik vaksin. Dianjurkan oleh mereka, bukan ditolak oleh rumah sakit yang lebih besar, ”ujarnya.

Akhirnya ada dokter yang memeriksa korban dan dinyatakan meninggal dunia.

“Pada akhirnya ada dokter yang memeriksa dia dan menyatakan Rio ini sudah meninggal dunia,” ungkapnya.

Dikatakan Viki, jenazah Trio sudah dimakamkan pada Kamis (6/5) usai buka puasa di dekat rumah. Tempat kerabat kantor tempat adiknya bekerja mendatangi rumah duka.

Viki menyebut hingga saat ini belum ada pihak Dinkes DKI Jakarta ataupun Kemenkes yang mendatangi korban untuk menyampaikan kejadian tersebut. Meski begitu, dia sempat mendengar ada pihak lain yang menghubungi adiknya terkait vaksin tersebut.

“Kita ingin minta kejelasan dari pihak-pihak yang terkait. Sampai sekarang saya sendiri belum dapat kelanjutan dari masalah ini seperti apa kejelasannya. Bahkan kalau dokter yang menyuntik pun saya nggak tahu, ”ungkapnya.

Juru bicara vaksinasi Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan kejadian ini sedang dikaji oleh Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

“Sedang dikaji Komnas KIPI dan Komda KIPI,” katanya.

Dikatakannya Komnas KIPI akan melakukan audit kematian. Investigasi dilakukan kepada berbagai pihak.

“Dari semua pihak,” katanya. (gw / fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *