Kronologi PMI Majalengka Terancam Hukuman Mati di Dubai

oleh -817 views
tkw-majalengka-nenah-arsinah-hukuman-mati
Nenah Arsinah, TKW Majalengka terancam hukuman mati. Foto: IST/tangkapan layar

MAJALENGKA – Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kasokandel, Kabupaten Majalengka, Nenah Arsinah terancam hukuman mati di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) karena dituduh membunuh sopir majikan.

Ditemui di kediamannaya, Kakak kandung Nenah, Nung Arminah (41) mengungkapkan kronologi adiknya bisa terjerat dalam kasus hukum yang terjadi pada tahun 2014 itu.

CEKCOK ANAK MAJIKAN DAN SOPIR

Peristiwa pembunuhan tersebut terjadi ketika ada cekcok antar anak majikan dan sopir yang merupakan warga negara India.

Korban protes karena belum digaji selama lima bulan. Tapi majikan tersebut memberi gaji hanya dua bulan saja.

Adiknya sempat memberi sopir itu makan. Namun merasa curiga karena sudah lama lebih dari 1 jam si sopir itu tidak mengirimkan piring.

Setelah dicek, sontak kaget karena sopir tersebut sudah tergeletak. Ada bekas luka jeratan di lehernya.

DITUDUH MEMBUNUH SOPIR ASAL INDIA DENGAN RACUN

Nenah Arsinah dituduh melakukan pembunuhan terhadap sopir tersebut. Sebab, dia sempat mengatarkan nasi untuk makan.

“Padahal adik saya bercerita kalau nasi yang diberikan ke sopir itu belum dimakan sedikitpun,” tutur Nung, kepada wartawan.

DISURUH TANDA TANGAN SURAT DALAM BAHASA ARAB

Setelah peristiwa itu, Nenah mendapatkan surat bertuliskan aksara Arab yang tidak dimengerti. Majikan perempuan Nenah hanya membujuk kalau adiknya bersedia menandatangani surat tersebut bersama satu pekerja lainnya asal Filipina, maka adiknya akan diberikan uang.

Tidak hanya itu, Nenah akan didijodohkan dengan tukang kebun tetangga majikannya.

Sehingga Nenah akhirnya bersedia menandatangani surat tersebut.

Namun selang beberapa waktu majikannya menelepon polisi UEA yang datang langsung memborgolnya bersama orang Filipina tersebut. Sejak tahun 2014 itu adiknya dituduh berzinah dan membunuh sopir.

“Di penjara itu adik saya selalu dihukum cambuk setiap minggunya atau hari Jumat. Kami pihak keluarga memohon ada bantuan dan kepedulian dari pemerintah. Karena sudah sering kami (keluarga) ditipu oleh oknum yang mengaku akan memfasilitasi membebaskan adik saya,” tandas Nung.

Ia meminta kepada perwakilan KBRI dan KJRI hingga Presiden RI agar bisa membebaskan adiknya. (ono)

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *