Warga India Waswas Divaksin Dua Kali Merek Berbeda

oleh -32 views
PRODUK LOKAL: Seorang petugas kesehatan menyuntik seorang pria dengan dosis vaksin Covaxin Covid-19 di kamp vaksinasi sebuah kuil di Amritsar, Kamis (27/5).FOTO: AFP

INDIA- Khawatir. Perasaan itu dialami 20 penduduk Distrik Siddharthnagar, Uttar Pradesh, India. Penyebabnya adalah kesalahan penyuntikan vaksin Covid-19. Mereka mendapatkan vaksin berbeda pada dosis pertama dan kedua.

BBC melaporkan bahwa awal April 20 orang tersebut diberi satu dosis Covishield. Itu adalah nama vaksin yang dikembangkan Oxford-AstraZeneca dan diproduksi lokal oleh Serum Institute of India. Nah, pada Mei ini mereka mendapatkan vaksin buatan India, Covaxin. India melarang pencampuran vaksin.

Penyelidikan tengah dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengawasan administratifnya sehingga insiden tersebut bisa terjadi. “Saya sudah meminta penjelasan kepada pihak yang bersalah dan berjanji akan menindak mereka,” tegas Kepala Petugas Medis Siddharthnagar Sandeep Chaudhary pada NDTV.

Otoritas setempat menyatakan, kondisi para warga yang malang itu saat ini sehat dan tidak menunjukkan efek samping. Namun, beberapa warga merasa ketakutan bahwa efeknya akan timbul beberapa pekan kemudian.

“Sampai saat ini, saya benar-benar bugar. Tapi, saya juga takut bahwa campuran vaksin dapat menyebabkan sesuatu yang salah pada tubuh saya dalam jangka panjang,” ujar Ram Surat, salah seorang korban, kepada New Indian Express.

Dia menjelaskan, saat itu petugas sibuk sendiri. Dia tidak bertanya kepada petugas perihal jenis vaksin yang didapat pada suntikan awal. Covaxin adalah vaksin yang terbuat dari virus korona yang sudah mati sehingga aman untuk disuntikkan ke dalam tubuh. Sementara itu, Covishield dibuat dari virus flu di simpanse, adenovirus, yang telah dilemahkan. Ia telah dimodifikasi agar lebih mirip virus korona, tapi tetap aman dan tidak mengakibatkan sakit.

Kejadian di India itu bukan yang pertama. Di Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya juga pernah ada kejadian serupa. Tapi, hanya 1–2 orang, tidak sampai puluhan. Saat ini para peneliti di beberapa negara sedang mendalami efek dari pencampuran vaksin yang berbeda. Rata-rata vaksin Covid-19 membutuhkan dua dosis dalam jangka waktu tertentu.

Seperti India, AS juga melarang percampuran vaksin. Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit (CDC) menegaskan bahwa segala upaya harus dilakukan untuk menghindari kesalahan pemberian vaksin. Sebab, belum ada evaluasi atas keamanan dan perlindungan yang diberikan oleh percampuran itu. Meski begitu, CDC memutuskan bahwa mereka yang sudah mendapat dua dosis vaksin dianggap sudah divaksin penuh. Terlepas dari vaksinnya sama ataupun berbeda.

Beberapa dokter dan peneliti justru meyakini bahwa pemberian vaksin berbeda bisa meningkatkan sistem imun. Ibaratnya, tubuh diberi latihan yang berbeda sehingga lebih siap ketika ada virus yang menyerang. Hasil penelitian awal pada tikus menunjukkan respons imun yang lebih kuat.

Salah satu penelitian percampuran vaksin berlangsung di Inggris. Penelitian itu diberi nama Com-Cov yang merupakan singkatan dari Comparing Covid-19 Vaccine Schedule Combinations (Membandingkan Kombinasi Jadwal Vaksin Covid-19).

Tes gelombang pertama mempelajari percampuran vaksin AstraZeneca dan Pfizer. Hasilnya diharapkan keluar dalam beberapa pekan ini. Gelombang kedua melibatkan berbagai kombinasi, mulai AstraZeneca, Pfizer, Moderna, hingga Novavax.

Sementara itu, Presiden AS Joe Biden meminta agar pejabat intelijen melipatgandakan usaha mereka untuk menyelidiki asal-muasal Covid-19. Termasuk soal teori kebocoran laboratorium. Biden memberikan waktu 90 hari untuk melaporkan kembali hasil penyelidikan.

Selama ini komunitas intelijen terbelah antara keyakinan bahwa virus berasal dari hewan yang terinfeksi lalu kontak dengan manusia. Satu lagi adalah kebocoran laboratorium. Tiongkok sudah berkali-kali membantah soal kebocoran itu.

“Kampanye kotor dan pengalihan kesalahan kembali muncul dan teori konspirasi kebocoran laboratorium mencuat kembali,” bunyi pernyataan Kedutaan Besar Tiongkok di AS, Kamis (27/5). Sejak muncul pada Desember 2019, 168 juta penduduk dunia sudah terinfeksi Covid-19. Selain itu, 3,5 juta orang lainnya meninggal dunia. (jp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *