Di Indonesia, Kenaikan Kasus COVID Akibat Libur Lebaran

oleh -35 views
juru-bicara-satgas-covid-19-prof-wiku
Juru Bicara Satgas Covid-19 Prof Wiku Adisasmito.

KASUS COVID-19 di Indonesia kembali naik pekan ini. Angkanya mencapai 15 persen. Kenaikan berasal dari lima provinsi di Indonesia. Penyebabnya akibat libur Idul Fitri. “Setelah minggu sebelumnya terjadi kenaikan kasus positif mingguan 36,8 persen, di minggu ini kenaikannya lebih rendah. Yaitu 15,1 persen. Sedangkan di minggu lalu sudah mulai memasuki minggu kedua pascalibur Idul Fitri.

Artinya kenaikan kasus positif pada periode ini dapat diklaim sebagai dampak libur Idul Fitri,” tegas Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito di Jakarta, Jumat (4/6).

Kenaikan kasus positif pada pekan ini diperoleh dari 5 provinsi. Rinciannya: Jawa Tengah naik 1.181, Riau naik 1.550, Kepulauan Riau naik 771, Aceh naik 692, dan DKI akarta naik 523.

Selain ada kenaikan kasus, Wiku juga menjelaskan 5 provinsi angka kematian tertinggi pada minggu ini. Yakni Riau, Kepulauan Riau, NTB, Kepulauan Bangka Belitung, dan Bengkulu. Dia menyebut begitu angka kematian minggu ini turun dari pekan lalu.

“Angka kematian pada minggu ini mengalami penurunan setelah minggu lalu terjadi kenaikan. Di minggu ini angka kematian turun 15,1 persen. Dal ini perkembangan sangat baik. Di tengah naiknya kasus positif, angka kematian dapat ditekan,” paparnya.

Kenaikan kasus di Jawa Tengah penyebabnya karena wilayah tersebut destinasi mudik paling banyak saat libur Lebaran. “Adanya kenaikan kasus positif di provinsi Jawa Tengah dapat terjadi karena Jawa Tengah merupakan destinasi mudik yang paling sering dikunjungi masyarakat Indonesia pada saat periode Idul Fitri. Di provinsi Jateng mobilitas penduduk ke tempat wisata tanggal 13-19 Mei lalu juga cukup tinggi. Bahkan mencapai 51 persen,” terang Wiku.

Sementara untuk kenaikan kasus di DKI, diduga karena DKI adalah tempat balik pemudik. Hal ini, didukung oleh data mobilitas masyarakat pasca Idul Fitri.

Menurut Wiku, kebiasaan masyarakat yang sering melakukan kerumunan perlu diubah untuk menekan penambahan kasus Corona di Indonesia.(fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *