Tiru Budaya Asing, Warga Korut Bisa Ditembak Mati

oleh -58 views
ilustrasi-tembakan
ILUSTRASI

KOREA Utara (Korut) memerangi budaya asing guna mengisolasi penduduknya. Terutama budaya dari Korea Selatan (Korsel). Jika melanggar, hukuman menanti. Mulai kerja paksa hingga eksekusi mati.

Media Korsel Daily NK melaporkan bahwa baru-baru ini negara yang dipimpin Kim Jong-un itu menerapkan aturan baru. Yaitu, penduduk dilarang menonton acara-acara asing, terutama dari Korsel, Amerika Serikat, dan Jepang. Hukumannya 15 tahun penjara hingga ditembak mati.

Penduduk Korut juga tidak boleh berbicara dengan bahasa asing, memotong rambut dengan model seperti di luar negeri, serta menggunakan celana panjang di atas mata kaki. Penggunaan celana panjang seperti itu menjadi tren di drama-drama Korsel. Jong-un menyebutnya sebagai racun yang berbahaya.

Jika ada anak yang tertangkap, orang tuanya ikut dihukum. Jika ada pekerja yang tertangkap, perusahaan juga dihukum. Sumber Daily NK mengungkap ada tiga pemuda yang tertangkap bergaya ala idola K-pop. Mereka langsung dikirim ke kamp reedukasi.

”Liga Pemuda harus menindak perilaku yang tidak menyenangkan, individualis, dan antisosial tersebut,” ujar Kim Jong-un seperti yang diunggah di media lokal Korut.

Ancaman hukuman di Korut bukan gertak sambal. Pembelot Korut yang kini tinggal di Korsel, Yoon Mi-so, melihat sendiri dulu tetangganya ditembak mati hanya karena menyelundupkan dan menonton drama Korsel. Seluruh penduduk di lingkungan tersebut diminta menonton eksekusi mati itu. Saat itu Yoon Mi-so masih berusia 11 tahun.

”Jika tidak melihat eksekusi itu, dianggap pengkhianat,” ujarnya seperti dikutip BBC.

Pembelot lainnya, Choi Jong-hoon, mengungkapkan, ketika situasi di Korut kian sulit, pemerintah biasanya memberlakukan aturan dan hukuman yang lebih ketat.

Saat ini Korut lebih terisolasi ketimbang dulu. Sejak pandemi, mereka menutup seluruh perbatasan. Beberapa sumber menyatakan bahwa saat ini penduduk mulai kekurangan pangan karena gagal panen dan tidak ada bantuan yang masuk.

”Secara psikologis, ketika perut kenyang dan menonton drama Korsel itu akan jadi hiburan. Tapi, jika tidak ada makanan dan hidup kian sulit, menontonnya akan membuat penduduk kian tidak puas terhadap pemerintah,” kata Choi Jong-hoon. (jp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *