Pandemi Covid-19 dan Lockdown Memperburuk Nasib Pekerja Anak

oleh -24 views
TANPA PENGAMANAN: Seorang anak laki-laki pengungsi Syria bekerja di kilang minyak darurat di dekat Desa Tarhin di utara Aleppo pada 25 Februari 2021. (AFP)

GOPAL Magar baru berusia 14 tahun. Namun, bocah lelaki asal Kathmandu, Nepal, itu harus merasakan kerasnya dunia kerja. Sejak jam 6 pagi, dia membanting tulang sebagai kuli bangunan untuk bertahan hidup dan menyokong keluarganya. Tugasnya adalah mengangkut pasir, membuat batu bata, dan mencampur beton. Per hari dia bekerja selama 12 jam.

’’Saya tidak tertarik untuk belajar saat ini karena masalah keluarga saya,’’ ujar Magar kepada The Guardian ketika ditanya terkait dengan nasib sekolahnya.

Ayah Magar adalah seorang pemabuk. Situasi kian memburuk saat pandemi melanda dan kota tempat tinggalnya menerapkan lockdown. Hilangnya pendapatan dan kuntara membuat ayah Magar uring-uringan. Dia kerap memukuli istrinya.

Magar tak tahan lagi melihat ibunya dipukuli. Suatu hari, dia melawan dan melarikan diri dari rumah. Magar memilih tinggal bersama kakak lelakinya di sisi lain kota. Di situlah dia menjadi kuli. Sebagian penghasilannya dia berikan kepada ibunya untuk membeli makanan dan membayar sewa rumah. ’’Masalah saya berkurang, tapi saya harus bekerja sangat keras,’’ terangnya.

Magar tentu bukan satu-satunya pekerja anak di dunia. Pandemi, lockdown, dan kacaunya perekonomian membuat situasi tak menentu. Sekolah ditutup, rumah tangga kehilangan pendapatan, dan terjadi kenaikan kasus kekerasan rumah tangga. Hasilnya adalah peningkatan jumlah pekerja anak. Ada yang bekerja di bidang yang berbahaya, eksploitatif. Durasi kerja yang panjang tak sebanding dengan upah yang rendah. Keselamatan kerjanya juga terabaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *