Rumah Tua Disulap Jadi Kedai Kopi, Kesan Seram Berubah Mengesankan

oleh -2.052 views
Milarie Cafe di Blok Pakuwon, Desa Plumbon, Kabupaten Cirebon mengambil suasana bangunan tempo dulu. FOTO: DEDI HARYADI/RADARCIREBON.COM

CIREBON – Sekilas rumah tua yang sudah berdiri sejak zaman kolonial Belanda ini tampak tidak terpakai. Bahkan, tampak menyeramkan layaknya rumah tak berpenghuni.

Tapi jangan salah, rumah tua zaman Belanda tersebut adalah sebuah kedai kopi.

Kedai kopi bernama Milarie Cafe itu berada di Blok Pakuwon, Desa Plumbon, Kabupaten Cirebon. Milarie Cafe menawarkan suasana berbeda dengan kedai kopi lain.

Suasana era kolonial sangat kental. Semakin kentara sebab bangunan tua itu pun masih asli. Berbagai ornamen yang dipilih makin mengesankan suasana tempo dulu.

Terdapat barang-barang kuno dan antik di rumah tua ini. Bahkan, pintu dan daun jendelanya pun masih asli.

Kesan seram dari luar, namun saat masuk kita bakal terkejut. Nuansa misterius yang tampak dari luar menjadi daya tarik para penikmat kopi untuk datang berkunjung.

Tapi, pengunjung betah berlama-lama saat sudah di dalam. Larut dengan suasana sambil menikmati kopi dan menu makanan lainnya. Tidak sedikit pengunjung berswa foto dengan latar rumah tua tersebut.

“Awalnya sih seram lihat bangunannya. Tapi begitu masuk ke dalam, malah suasana seram itu tidak ada. sebaliknya sangat mengesankan. Ornamen-ornamennya juga semunya jadul. Terdapat pajangan Wayang di dinding hingga kesanya beda aja,” ujar Jerry warga Ciperna, Kabupaten Cirebon kepada radarcirebon.com, Jumat (18/6).

“Saya tahunya dari sosmed banyak komen kafenya seram. Karena penasaran yang saya ke sini,” imbuhnya.

Imron Janu Amperanu, pemiki Milarie Cafe, memang sengaja mengambil konsep bangunan tua untuk kedai miliknya.

“Sengaja kami pilih bangunan tua ini karena sewa kontraknya terjangkau. Sehingga bangunan tua ini cocok untuk dijadikan kedai dan langsung kami sulap jadi Milarie Cafe,” tuturnya.

Masih kata Imron, bangunan tersebut sama sekali belum pernah di renovasi.

“Di sini semuanya masih asli, mulai dari bangunan, perabotan hingga atap rumah (genting), bahkan cat tembok rumah ini juga belum pernah diganti,” katanya. (rdh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *