Emil: Pastikan Tak Ada Pungli Lagi

oleh -11 views
DUGAAN PUNGLI: Polda Jabar akan menugaskan polisi berseragam untuk memastikan tidak ada pungli di TPU Cikadut. FOTO:jabarekspres

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memastikan tidak akan kembali terjadi pungutan liar (pungli) pemakaman jenazah Covid-19 di kota/kabupaten di Jabar.

“Kami sudah arahkan sebab secara teknis di kab/kota jangan sampai viral lagi. Sudah ditegaskan dari mulai ambulan-angkut peti itu adalah gratis untuk mereka yang sedang berduka,” ucap Kang Emil –sapaan akrab gubernur- di Bandung, Senin (12/7).

Tak hanya itu, guna memastikan tak akan terjadi kembali pungli di TPU Cikadut, ia pun telah berkoordinasi dengan Kapolda Jabar untuk mengirim personel kepolisian untuk berjaga.

“Kapolda sudah menyepakati bahwa di Cikadut itu akan ada polisi berseragam yang bertugas untuk memastikan tidak ada pungli lagi. Sehingga nanti ada kejadian pungli ada polisi untuk dijadikan tempat mengadu. Itu arah saya tinggal ditindaklanjuti,” katanya.

Ia pun menyarankan kepada kepala daerah untuk memberikan insentif tambahan guna memberikan semangat untuk para penggali kuburan. Pasalnya, di saat PPKM Darurat jumlah jenazah yang dimakamkan meningkat.

“Mungkin ada tambahan-tambahan untuk menyemangati. Saya juga termasuk beberapa kali memberi uang kepada petugas pemakaman di Cikadut sebagai atensi untuk menyemangati mereka,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Fraksi PDIP DPRD Provinsi Jawa Barat Memo Hermawan mendesak Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil agar segera menertibkan dugaan pungli terhadap keluarga korban Covid-19 yang dimakamkan di  TPU khusus Covid-19 Cikadut, Bandung.

Berdasarkan laporan masyarakat yang diterimanya, pihak keluarga pasien meninggal akibat Covid-19 dimintai biaya pemakaman hingga Rp4 juta rupiah oleh petugas TPU Cikadut. Parahnya, jika keluarga tidak mampu membayar maka jenazahnya tidak jadi dimakamkan.

“Penguburan korban Covid-19 ini tanggung jawab pemerintah, baik pemkot dan kabupaten sesuai wilayah maupun Pemda Provinsi Jawa Barat jangan sampai dikomersialisasi. Gubernur harus menertibkan,” kata Memo.

Berdasarkan laporan masyarakat yang diterimanya, kata Memo, salah satu keluarga korban pungutan liar biaya pemakaman di TPU Cikadut adalah Yunita Tambunan warga Kota Bandung, yang kebetulan beragama nasrani.

Ayah dari Yunita, Binsar Tambunan adalah pensiunan pegawai PT KAI yang meninggal karena covid-19 di RS Sentosa, Selasa (6/7).

“Jangan ada diskriminasi karena perbedaan agama lalu dikenai biaya penguburan. Saya tegaskan di sini bahwa pemakaman pasien Covid-19 adalah kewajiban pemerintah. Pungli ini merugikan masyarakat dan juga melanggar aturan dan perundang-undangan,” tegas Memo.

Memo mendesak agar Gubernur Ridwan Kamil segera turun tangan agar kasus ini tak terulang lagi. “Jangan sampai aksi pungli ini terjadi lagi di Bandung maupun di kota atau kabupaten lain di Jawa Barat,” tegasnya.

Sementara Yunita Tambunan saat dikonfirmasi mengungkapkan, aksi pungli tersebut terjadi pada Selasa 6 Juli 2021, sekitar pukul 20.00 WIB, saat dirinya menghantarkan jenazah ayahnya Binsar Tambunan korban Covid-19 untuk dimakamkan di TPU tersebut.

Sebelum pemakaman dilakukan, Yunita didatangi oleh petugas makam bernama Rendi Kardinata yang mengaku sebagai kordinator tim C TPU Cikadut. Dan memintanya untuk membayar biaya pemakaman sebesar Rp4 juta.

“Dia bilang bahwa liang lahat sudah disiapkan. Saya bertanya, kenapa saya harus bayar pak? Waktu itu sekitar pukul delapan malam. Lalu Pak Rendi itu jawab. Kalau non muslim tidak ditanggung pemerintah, katanya gitu,” tuturnya.

Karena mendengar penjelasan itu, akhirnya Yunita bersama keluarga memohon keringanan biaya, setelah melalui negosiasi yang alot akhirnya disepakati Yunita harus membayar sebesar Rp2,8 juta. Dengan bukti catatan rincian pembayaran yang ditulis di atas kertas.

“Kita sepakatilah membayar Rp2,8juta, karena hari sudah semakin larut dan sudah tidak tahu mau buat apa lagi. Maka karena alasan tidak ada kuitansi, si Pak Rendi itu menuliskan bukti pelunasan di atas kertas dengan rincian biaya gali makam Rp 1,5 juta, biaya pikul jenazah Rp1juta dan salib Rp300 ribu,” terangnya.

Tidak sampai di situ saja, setelah selesai melakukan pemakaman sekitar pukul 23.00 Wib, ia dan keluarga kembali dimintai uang dengan alasan meminta bantuan beli vitamin untuk para petugas gali makam.

Ya akhirnya kami mengeluarkan dana Rp50.000 lagi selain membayar uang parkir Rp10.000. Setelah saya ditimpa kemalangan papa saya, ternyata di TPU Covid-19 Cikadut Bandung ada praktik pungli untuk pemakaman yang meninggal, terutama non Muslim. Apakah demikian peraturannya,” pungkasnya. (win)