Senior Chris

oleh -74 views

SUDAH 10 hari saya tidak menerima WA dari senior saya itu: Christianto Wibisono.

Tumben.

Biasanya hampir tiap hari beliau mengirimi saya info. Apa saja. Ekonomi, politik, agama, isi Disway pagi itu, dan –ini yang saya baru tahu– soal usulnya ke Gubernur Ali Sadikin agar membuka judi.

Pak Chris, begitu saya memanggil Christianto Wibisono, meninggal Rabu lalu. Ia senior saya di majalah TEMPO. Ia ikut mendirikan majalah itu di tahun 1971.

Waktu saya masih berstatus magang 3 bulan (1975), namanya masih tercantum sebagai salah seorang direktur di majalah itu. Praktis TEMPO saat itu didominasi orang Pantura: Harjoko Trisnadi orang Semarang, Chris orang Semarang, Goenawan Mohamad orang Batang, Fikri Jufri orang Pekalongan. Dirutnya yang orang Manado: Eric Samola. Baru Pak Eric dan Chris yang meninggal.

Tapi saya tidak pernah melihat Pak Chris di kantor. Saya tidak pernah bertemu. Saya juga tidak pernah bertemu Goenawan Mohamad. Selama tiga bulan itu saya ingin sekali melihat Goenawan Mohamad itu seperti apa. Ia saya dewakan waktu itu. Yang aktif memimpin TEMPO saat itu sastrawan Bur Rasuanto –orang Rasuan, Sumsel, yang nama aslinya Burhanuddin. Bur-lah mentor magang saya.

Kelak, tiga tahun kemudian saya baru bertemu Goenawan Mohamad. Bahkan ia-lah yang mengedit tulisan panjang saya, laporan utama soal tenggelamnya kapal Tampomas, –dengan pujian.

Lalu saya pernah diminta mengedit tulisan seorang Redpel TEMPO secara sembunyi-sembunyi. Agar sang Redpel tidak tersinggung. Sampai di situ saya belum juga tahu yang mana itu Christianto Wibisono. Beliau rupanya sudah tidak aktif sejak 1973 –berarti hanya dua tahun di TEMPO.

Pak Chris sebenarnya lahir di Jakarta –tiga bulan sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tapi ia selalu mengatakan dirinya orang Semarang.

Ketika masih kecil, dengan nama Oey Koan Kok (黄建国, Huang Jiang Guo), Pak Chris sudah dibawa pindah ke Semarang. Sekolah di Semarang. Sampai tamat SMAK Kolese Loyola di kota itu.

Tamat SMA ia ke Jakarta. Untuk kuliah di Fakultas Hukum dan Kemasyarakatan Universitas Indonesia. Namun belum setahun jadi mahasiswa UI terjadilah pergolakan 1965.

Mahasiswa UI menjadi pahlawan besar dan kiblat gerakan mahasiswa seluruh Indonesia. Rektor UI saat itu, Prof Dr Ir R.M. Soemantri Brodjonegoro menjadi simbol pengayom gerakan mahasiswa –jauh sebelum jabatan itu jadi bahan ejekan luar biasa di akhir Juli 2021.

Pak Chris aktif di gerakan mahasiswa itu. Ia menjadi wartawan Harian Kami –corong gerakan mahasiswa saat itu. Koran itu dipimpin Nono Anwar Makarim –ayah Mendikbudristek sekarang, Nadiem Makarim.

Bakat Pak Chris di bidang tulis-menulis sudah unggul sejak di SMA. Keasyikannya sebagai wartawan pergerakan membuat kuliahnya tidak terurus.

Apalagi ia kemudian ikut mendirikan Majalah TEMPO. Setelah tidak di TEMPO lagi, Pak Chris kembali kuliah di UI. Di FISIP. Sampai tamat di tahun 1978.

Tanggal 13 Juli lalu, ia masih kirim WA ke saya: hoax mengenai orang yang divaksin yang akan meninggal dua tahun kemudian.