Covid-19 Sedang Menurun, Ini yang Harus Dilakukan agar Tragedi Juli Tidak Terulang

oleh -75 views
Varian-Delta-Shutterstock-The-Conversation
Ilustrasi varian Covid-19. (Shutterstock/The Conversation)

Kasus infeksi virus corona tau covid 19 kini tengah menurun. Kendati demikian di tengah relaksasi yang diberikan pemerintah di masa PPKM Level 4, 3, 2 dan 1, ada kekhawatiran tragedi lonjakan kasus dan kematian, kembali terulang. Bagaimana mencegah itu terjadi?

KITA tentu tidak mau jadi keledai. Jatuh dua kali ke lubang yang sama.

“Tragedi. Memang iya. Memang itu, masa-masa chaos. Nakes dan fasilitas kesehatan dalam kondisi sangat kewalahan menangani pasien covid-19,” demikian disampaikan Akademisi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ), dr Ahmad Fariz Malvi Zamzam Zein SpPD,FINASIM FACP., terkait lonjakan kasus di Bulan Juli 2021.

Lonjakan yang tak pernah terbayang sebelumnya, akibat munculnya varian delta. Yang membuat sistem kesehatan rontok. Dan banyak nyawa berguguran.

Sore itu, radarcirebon.com menghubungi dr Fariz. Kang Bro, demikian ia akrab disapa. Perbincangan, tentu saja tidak jauh dari kekhawatiran kembali terjadinya lonjakan pasca relaksasi dilakukan.

Perlu diulang sekali lagi. Relaksasi. Bukan bebas sebebas-bebasnya. Sehingga, bukan euforia yang seharusnya terjadi di tengah masyarakat. Tetapi kehati-hatian, kewaspadaan di tengah aktivitas yang kembali dibuka secara perlahan.

Di tengah kondisi ini, satu sisi kita bernafas lega bahwa kasus covid-19 tengah melandai. Fasilitas kesehatan juga bisa melakukan recovery.

Tapi, di sisi lain, kekhawatiran atas lonjakan kasus covid-19 tidak bisa hilang begitu saja. Apakah faskes siap menahan bila kembali terjadi lonjakan? Bagaimana dengan ketersediaan oksigen? Bagaimana dengan obat-obatan?

Fariz lugas menjawab: “Perlu kesadaran dan kesiapan pemerintah,” katanya.

dr-ahmad-fariz-zamzam-zein
dr Ahmad Fariz Malvi Zamzam Zein SpPD,FINASIM FACP

Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RSUD Waled, Kabupaten Cirebon itu mengilustrasikan dibolehkannya makan di tempat dengan waktu mulai dari 20 menit ke 60 menit.

Hal itu, mestinya disikapi sebagai bentuk kehati-hatian dari pemerintah. Artinya, pembukaan aktivitas itu mesti dilakukan dengan cara yang berhati-hati. Juga dibarengi pengetatan protokol kesehatan.

“Pemerintah saja masih hati-hati, sudah mulai relaksasi bukan berati selesai semua. Pesan yang harus disampaikan ke masyarakat adalah, pencegahan, protokol kesehatan tetap harus dijalankan dan masih sama,” katanya.

“Kita sudah 1,5 tahun seharusnya banyak belajar mengenai prokes, jangan jadi bosen, tetapi lebih ke arah kebiasaan. Keluar rumah tanpa masker itu, harusnya sudah mulai tertanam di benak kita, seperti ada sesuatu yang kurang,” imbuhnya.

Berita berlanjut di halaman berikutnya…

Baca juga: