BMKG Prediksi La Lina Datang Akhir Tahun, Kepala BPBD Jabar: Antisipasi Bencana Alam Harus Pakai Paradigma Baru

oleh -15 views
Kepala Pelaksana BPBD Jabar Dani Ramdan dalam siaran Podcast Ngobrolin Citarum (Ngonci) di kantornya, Selasa (8/6). (Foto: Pokja Humas Satgas Citarum Harum)
Kepala Pelaksana BPBD Jabar Dani Ramdan dalam siaran Podcast Ngobrolin Citarum (Ngonci) di kantornya, Selasa (8/6). (Foto: Pokja Humas Satgas Citarum Harum)

BANDUNG – Jawa Barat harus bersiap-siap menghadapi dan dari sekarang mengantisipasi bencana akibat dari fenomena La Nina yang diprediki oleh Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan muncul di akhir 2021.

Bahkan, dalam prediksi La Nina BMKG pun disebutkan musim cenderung basah yang artinya intensitas hujan akan naik 40-80 persen.

Menurut Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah ((Kalakhar BPBD) Provinsi Jawa Barat, Dani Ramdhan bahwa antisipasi bencana harus menggunakan paradigma baru, yakni  mengurangi risiko bencana dengan mitigasi dan bukan lagi pada penanggulangan pascabencana.

“Pengurangan risiko bencana itu lebih menekankan kepada upaya-upaya pencegahan terjadinya bencana. Jadi, segala upaya yang dilakukan prabencana seperti pelestarian lingkungan” tuturnya.

Dani menjelaskan lebih dari 90 persen bencana yang terjadi di bumi berakar pada kerusakan alam. Oleh karena itu, upaya yang dilakukan adalah melestarikan alam.

“Upayanya adalah mencoba menyeimbangkan kembali antara kebutuhan manusia yang bersumber dari alam dengan pelestarian alam. Artinya manusia boleh mengeksplotiasi alam untuk kebutuhannya, tetapi tetap harus dibarengi dengan pelestarian,” jelas Dani.

Dia menyebut, sebagian besar bencana di Jawa Barat adalah bencana hidrologi atau selalu berkaitan dengan air seperti banjir, tanah longsor, tanah bergerak, bahkan tsunami. “Bencana yang terjadi akibat air tidak lagi bisa ditahan karena pohon-pohon semakin berkurang,” katanya.

Ditambah lagi, musim kemarau saat ini disebut sebagai kemarau basah, yang artinya tetap membawa potensi hujan ringan sedang dan besar.

Jawa Barat sebagai daerah rawan bencana sudah bersiap menghadapi bencana alam, disamping tetap harus menghadapi bencana nonalam wabah penyakit akibat virus Covid-19.

“Kita sudah mengantisipasi dengan berbagai langkah, di antaranya penyiapan SDM terutama di kabupaten/kota, penyiapan alat, dan penyiapan mitigasi termasuk logistik. Titik beratnya ada di BPBD kabupaten/kota,” ungkapnya.

Lebih lanjut Dani menerangkan, bahwa berdasarkan peta potensi bencana, hampir semua daerah di Jawa Barat memiliki potensi bencana yang ditandai dengan warna merah.

“Terutama di daerah non-perkotaan, hampir semua warnanya merah. Di daerah-daerah merah itulah kita antisipasi dengan kesiagaan bencana” pungkasnya.

Perlu diketahui, Jawa Barat sendiri sedang menuju provinsi berbudaya tangguh bencana yang dituangkan ke dalam konsep Jabar Resiliance Culture Province (JRCP). Dalam penyusunan cetak biru JRCP melibatkan semua stakeholders.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil telah mengonsepkan JRCP mencakup pendidikan masyarakat dan preventif bencana, pendidikan di sekolah, infrastruktur pengendali, penguatan kelembagaan pemerintah mencakup regulasi, pembangunan berkelanjutan 3P: planet – people – profit, serta anggaran. (jun)

Baca juga: