Transaksi Dagang RI – Jepang Naik 10 Kali Lipat

oleh -21 views
ILUSTRASI-EKSPOR MINYAK SAWIT
ILUSTRASI-EKSPOR MINYAK SAWIT

TRANSAKSI perdagangan antara Indonesia dengan Jepang naik hampir 10 kali lipat sejak kedua negara menyepakati kebijakan penggunaan mata uang lokal (local currency settlement/LCS) dan tidak lagi menggunakan dolar AS.

“Ada pergerakan yang tinggi dengan Jepang, meningkat hampir lebih dari 10 kali kenaikan transaksinya,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani, Sabtu (18/9/2021).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai perdagangan antara Indonesia dan Jepang eningkat dalam setahun terakhir. Tercatat, nilai ekspor non-migas dari Indonesia ke Jepang mencapai USD10,46 miliar pada Januari-Agustus 2021. Nilainya meningkat 25,8 persen dari USD8,32 miliar pada Januari-Agustus 2020.

Sementara impor non-migas dari Jepang ke Indonesia mencapai USD9,01 miliar pada Januari-Agustus 2021. Secara tahunan, realisasinya naik 136,56 persen dari USD7,31 miliar pada Januari-Agustus 2020.

Untuk itu, Hariyadi berharap kerja sama perdagangan antara Indonesia dan beberapa negara mitra dagang yang sudah tidak menggunakan dolar AS lagi, bisa meningkat lebih tinggi. Khususnya, dengan China yang baru saja memulai implementasi penggunaan mata uang lokal dengan Indonesia pada tahun ini.

“Mudah-mudahan dengan China juga demikian (meningkat seperti dengan Jepang), sehingga risiko (dari pergerakan nilai tukar mata uang), kita bisa lebih bervariasi. Kita harus punya mata uang alternatif untuk mendukung ekspor impor kita,” ujarnya.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid juga berharap penggunaan mata uang lokal alias tidak lagi menggunakan dolar AS bisa mendongkrak nilai perdagangan dunia usaha nasional dari mitranya di Malaysia, Thailand, Jepang, dan China yang kini sudah menyepakati kebijakan ini.

“Khususnya dengan China karena negeri tirai bambu itu memegang porsi terbesar dari total ekspor dan impor Indonesia dengan negara tersebut. Namun selama ini transaksi perdagangan dengan China justru menggunakan dolar AS,” kata Arsjad.

Sedangkan total ekspor dan impor Indonesia dengan Amerika Serikat justru jauh lebih kecil daripada dengan China. Pada Januari-Agustus 2021 misalnya, nilai ekspor non-migas Indonesia dengan China mencapai USD34,66 miliar.

Realisasi ekspor ini membuat China menempati negara pertama dengan pangsa pasar ekspor mencapai 32,25 persen dari total ekspor Indonesia ke berbagai negara di dunia. Sementara nilai ekspor non-migas Indonesia-AS hanya US$5,62 miliar atau 5,23 persen dari total ekspor.

“Kita menggunakan dolar AS sampai 100 persen (ke berbagai negara) walau hanya 5-10 persen dalam konteks ekspor perdagangan kita yang berhubungan dengan AS. Jadi lebih banyak Indonesia lakukan perdagangan dengan China dan Jepang,” pungkasnya.(fin)