Ada Peninggalan Belanda di Kampung Cigumentong

oleh -63 views
MAKAM BELANDA: Warga Kampung Cigumentong, Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang saat menunjukkan makam Mr Jansen Tuan Block. FOTO: Yanuar Baswata/Jabar Ekspres

SUMEDANG – Berbagai macam peninggalan sejarah Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda berserakan di setiap penjuru Tanah Air. Salah satunya ada di Kampung Cigumentong, Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang.

Kampung yang terbilang terpencil itu berlokasi tepat di tiga perbatasan Kabupaten Garut, Sumedang dan Kabupaten Bandung.

Uniknya, Kampung Cigumentong yang menyimpan sejarah Kolonial Hindia Belanda selama Indonesia merdeka, baru saat ini dapat merasakan nikmatnya manfaat listrik.

Kampung Cigumentong dapat dikatakan terpencil, sebab lokasinya yang berada di Kawasan Gunung Kareumbi membuat wilayah tersebut jarang dijamak oleh orang luar.

Daerah yang dikelilingi oleh pepohonan besar alias dekat dengan hutan menjadikan Kampung Cigumentong sedikit diketahui oleh orang luar Sumedang.

Diketahui, Kawasan Gunung Kareumbi merupakan wilayah Hutan Konservasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat.

Terkait peninggalan sejarah Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, Tokoh Masyarakat sekaligus Pemangku Adat Kampung Cigumentong, Jai Suryana mengaku, sejak tahun 1884 lalu, Kampung Cigumentong sudah dihuni oleh manusia.

“Pada tahun 1919, ketika Indonesia memasuki masa penjajahan, seorang Administratur dari Pemerintah Hindia Belanda datang ke kampung ini,” ujar Jai kepada Jabar Ekspres di Kampung Cigumentong, Selasa (5/10).

Dia berujar, seorang Administratur tersebut bernama Mr Jansen atau warga kampung memanggilnya dengan sebutan Tuan Block.

“Dari cerita turun temurun, ia merupakan administratur yang ditugaskan Pemerintah Hindia Belanda di kampung ini,” katanya.

Jai menerangkan, Kampung Cigumentong dulunya merupakan area perkebunan penghasil jeruk terbaik. Kemudian kedatangan Tuan Block membuatnya menjadi penguasa lahan.

“Jadi Tuan Block yang menguasai Kampung Cigumentong ini dan perkebunan jeruk,” imbuh Jai.

“Bahkan, ketika mau dipulangkan oleh Belanda, Tuan Block enggak mau pulang. Sampai meninggalnya dia (Tuan Block) tinggal di sini dan menjadi sejarah kampung ini dengan ditemukannya makam Tuan Block ada di sini,” tambahnya.

Menurut Jai, melalui cerita dari para leluhur secara turun temurun, keluarga Tuan Block, semuanya sudah kembali ke Belanda.

“Semuanya keluarganya kembali ke Holland. Hanya Tuan Block yang tinggal di sini, makamnya ditemukan beberapa tahun ke belakang,” ucapnya.

Jai menambahkan, sebelumnya anggota keluarga Tuan Block sempat ada yang berkunjung ke Kampung Cigumentong. Namun katanya, sekarang sudah tidak ada yang datang.

Saat makam Tuan Block ditemukan, peti di dalam kuburnya sudah hancur, dan yang ditemukan hanya tulang belulangnya saja.

Diketahui, sebelumnya tulang belulang Tuan Block sempat akan dipindahkan. Namun, setelah dimusyawarahkan bersama warga Kampung Cigumentong akhirnya tulang-tulang Mr Jansen diputuskan untuk kembali dimakamkan di lokasi ditemukannya makam.

“Oleh warga kembali dimakamkan tanpa salib atau batu nisan, hanya berupa tembok saja sekarang sebagai penanda,” ujarnya.

Jai menuturkan, di wilayah Kampung Cigumentong, Tuan Block membangun rumah megah dengan kolam renang yang cukup luas.

Seiring waktu, bangunan rumah beserta kolam renangnya hancur karena sudah tidak ada penghuni dan tak ada yang merawat.

“Hanya tersisa fondasi bawah bangunannya saja. Semuanya sudah hancur dan sekarang menjadi lahan perkebunan warga Cigumentong,” tutupnya. (mg5)