Dan Risma tidak terlihat memupuk kekayaan dari jabatannya. Dua periode dia jadi wali kota. Di kota metropolitan pula: Surabaya. Rumahnya biasa saja. Di daerah yang termasuk kelas 3-nya Surabaya: Wiyung. Nun di Surabaya Barat banget. Itu bukan daerah kelas 2 apalagi kelas 1. Dia sudah di situ sejak masih menjadi kepala dinas.

Rumah orang tuanya-yang menjadi rumah pertamanya-juga di daerah kelas 3. Di dekat Pasar Burung, Nginden. Yang sampai sekarang tanahnya masih belum berstatus hak milik.

Di rumah inilah, awalnya, dibangun museum sederhana: Historisma. Di situ pula dibuat warung kopi. Waktu itu Risma mengira tidak ada jabatan apa-apa lagi setelah dua periode itu berlalu.

Ternyata Risma menjadi menteri sosial. Saya pernah berpikir untuk mengadakan acara selama satu minggu. Temanya: Surabaya Berterima Kasih Kepada Risma. Tapi ada pandemi. Tidak mungkin ada kerumunan. Apalagi sebelum habis masa jabatan itu ternyata dia sudah dilantik sebagai menteri. Praktis tidak ada waktu bagi warga Surabaya untuk berterima kasih kepadanya.

Saya memang melihat Bu Risma juga orang yang normal: ingin jabatan yang lebih tinggi. Sejak dulu. Tapi yang seperti itu kan boleh-boleh saja. Kemajuan sering datang dari orang yang punya kemauan.

Saya pernah makan satu meja bertiga: dengan Bu Risma dan Ibu Mega. Saya rasakan hubungan istimewa kedua wanita itu. Bu Mega terlihat sudah terbiasa dengan gaya Bu Risma yang ceplas-ceplos: Suroboyoan.

Dengan gerak tubuh yang tidak perlu disopan-sopankan. Yang untuk ukuran orang sebagian orang Jawa bisa saja dianggap kurang sopan. Toh tidak terlihat ada sedikit pun keberatan Bu Mega dengan gaya Risma seperti itu.

Marahnya Bu Risma memang keras. Agak kasar. Tapi mulutnya tidak kotor. Tidak ada harta dari toilet yang keluar dari mulut marahnya. Tidak ada pula kebun binatang di lidahnya.

Saya pun akan marah: kalau melihat data orang miskin yang harus salah terus. Sudah sekian tahun. Sudah di zaman komputer dan Wi-Fi seperti ini.

Harus ada yang marah di negeri ini: asal marahnya tetap yang ikhlas. (dahlan iskan)

Artikel ini telah tayang di Disway

Baca juga:

Laman: 1 2