Kota Halfeti yang Teggelam itu Muncul Kembali

oleh -55 views
SPOT IKONIS: Menara setengah cekung Savasan Koy, salah satu spot yang paling ikonis di Halfeti, Sanliurfa, Turki. FOTO: Arnidhya Nur Zhafira/ANTARA

TURKI – Halfeti merupakan sebuah kota tua di Provinsi Sanliurfa di Turki. Kota ini pernah tenggelam, namun sebagian kembali ke permukaan. Tentu ini menjadi salah satu objek wisata menarik.

Berbeda dengan destinasi wisata lain yang identik dengan batu-batuan dan kepingan peradaban manusia yang bersejarah, Halfeti menawarkan pengalaman sempurna untuk menikmati teriknya musim panas di tenggara Turki. Halfeti adalah kota yang dulunya sempat tenggelam atau terendam karena sebuah proyek bendungan. Sisa-sisa kota tua masih bisa dilihat di bawah air yang bening, sementara sebagian lainnya terlihat di dataran di tebing-tebing batu.

Sebagian besar Halfeti tenggelam di bawah air karena Bendungan Birecik yang membanjiri daerah itu pada 1990-an sehingga sebuah kota baru kemudian dibangun sekitar 15 kilometer jauhnya. Dengan demikian, permukiman dibagi menjadi Halfeti Baru dan Lama.

Sisa-sisa Old Halfeti, tenggelam di dalam sungai telah menarik pengunjung yang mengagumi pemandangan yang dapat dibandingkan dengan museum bawah laut.

Mengulik dari sejarahnya, kembali ke 855 sebelum masehi, ketika Raja Asyur Shalmaneser II pertama kali mendirikan permukiman. Selama era Romawi, sebuah permukiman dengan nama Akamai berkembang pesat, kemudian berubah menjadi Koyla. Setelah periode Romawi, kota ini menyaksikan banyak peradaban termasuk Sassania, Arab, Umayyah dan Abbasiyah yang memerintah wilayah tersebut dari abad ke-6 hingga ke-8 Masehi. Pada abad ke-11, Seljuk mengambil alih Halfeti dan pada abad ke-16 menjadi bagian dari Kekaisaran Ottoman.

Pada tahun 2013, kota ini diberikan keanggotaan gerakan Cittaslow atau “kota lambat”. Gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kenikmatan hidup dengan memperlambat langkah dan berfokus pada kualitas daripada kuantitas. Gerakan ini memilih kota-kota kecil (dengan populasi di bawah 50 ribu) dan mendukung pemerintah daerah dalam pengembangan dan perlindungan tradisi, masakan dan alam.(antara/jpnn)