Tradisi Muludan Terganjal Proyek Alun-alun Kasepuhan

oleh -97 views
TIDAK ADA: Pasar malam Muludan di lingkungan sekitar Alun-alun Kasepuhan tahun ini tidak digelar. FOTO: ADE GUSTIANA / RADAR CIREBON

HIBURAN rakyat Muludan yakni pasar malam Alun-alun Kasepuhan tahun ini libur lagi. Terganjal proyek alun-alun di depannya yang ditarget rampung Desember 2021. Dan karena pandemi Corona masih ada, prosesi panjang jimat hanya juga hanya dihadiri keluarga keraton. Tidak terbuka untuk wisatawan.

Muludan sudah jadi acara tahunan yang selalu ditunggu. Tak hanya masyarakat sekitar, tapi di Wilayah III Cirebon. Pasar rakyat di sore hingga malam hari itu menyimpan daya tarik.

Sebelum Corona, ribuan orang hilir-mudik mengunjungi sekitar kawasan keraton tempat pedagang mangkal. Bahkan, satu bulan sebelumnya, mereka sudah mempersiapkan barang dagangan. Macam-macam yang dijajakan. Harganya juga ramah di kantong.

Mulai dari dagangan untuk dikonsumsi, hingga buah tangan buatan warga sekitar. Bahkan hiburan rakyat seperti komedi putar, kora-kora, bianglala dan sejenisnya ikut meramaikan pasar malam selama satu bulan penuh ini.

“Dari tahun kemarin kita meniadakan pedagang pasar malam. Pertama karena masih dalam pandemi Corona. Kedua, Alun-alun Kasepuhan kan masih dalam tahap revitalisasi. Kita menjaga agar progres itu tidak terganggu,” tutur Direktur Badan Pengelola Keraton Kasepuhan Ratu Raja Alexandra Wuryaningrat kepada Radar Cirebon, kemarin (15/10).

Dia menargetkan alun-alun yang menelan anggaran Rp10,4 miliar ini rampung Desember 2021. Melalui itu dia berharap pengelolaan dan penataan pedagang bisa lebih terkoordinir. Sehingga tak mengganggu wajah alun-alun atau keraton yang letaknya hanya sepelemparan batu tersebut.

Di lapangan, pengerjaan fisik masih terus dilakukan. Sekitar proyek juga tidak ditutup pagar. Tahapan pengerjaan bisa dipantau langsung oleh siapa saja yang melintas. “Tahap pengerjaan sudah lebih dari 50 persen. Tinggal pasang panggung sama lantai,” sambung Ratu.

Di papan proyek, pengerjaan alun-alun yang dinamai Sangkala Buana itu memakan waktu 180 hari kerja. Pembiayaan berasal dari Dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Provinsi Jawa Barat.

Ratu berharap kehadiran magnet baru tersebut bisa menambah tingkat kunjungan wisatawan. Sehingga ekonomi warga sekitar bisa lebih berdaya.

Terkait kunjungan wisata, kata Ratu, di Keraton Kasepuhan sudah mulai ada peningkatan. Dibuktikan kemarin, sedikitnya tiga bus rombongan dari Cilamaya berkunjung ke keraton tersebut. “Dua minggu lalu bahkan ada lima bus. Alhamdulillah mudah-mudahan tidak jadi klaster baru. Karena kita selalu menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin dan ketat,” ucap Ratu Alexandra.

Ritual adat Maulid Nabi di Kasepuhan dimulai sejak bulan Safar. Rabu (13/10) digelar pencucian piring-piring pusaka peninggalan Wali Songo atau disebut ritual Siraman Panjang. Tradisi dipimpin langsung Sultan Sepuh XV Keraton Kasepuhan Pangeran Raja Adipati (PRA) Luqman Zulkaedin. Yang digelar secara turun-temurun dan rutin tiap tanggal 5 Maulid.

Benda yang  dicuci di antaranya tujuh piring wali, 38 piring pengiring, dua guci, dan dua gelas. Total 49 buah. Piring-piring pusaka itu bermotif kaligrafi lafaz Allah. Benda-benda pusaka itu diletakkan di atas meja. Di tengah ruangan itu, telah disiapkan bak kayu isi air.

Selama prosesi pencucian benda peninggalan Wali Sanga itu, kaum Masjid Agung Sang Cipta Rasa, abdi dalem dan keluarga keraton melantunkan salawat Nabi. Kemudian dilanjut ritual buka bekasem ikan. Yaitu menu yang selalu ada saat peringatan Maulid Nabi. Berupa potongan ikan laut besar yang difermentasi.

“Setelah siraman piring panjang, buka bekasem terus memipis boreh. Setelah itu sultan menerima caos atau tamu bakti. Tamu yang dari desa-desa untuk silaturahmi ke sultan,” papar Ratu.

Ritual adat dijalani sesuai yang telah menjadi tradisi. Bedanya, tahun pandemi ini apa-apanya serba dibatasi. Pun saat nanti di acara puncak atau panjang jimat.

Sebelum Corona, panjang jimat selalu dibanjiri pengunjung. Baik dalam kota atau luar kota. Namun tahun ini dan tahun kemarin, ritual puncak dilakukan terbatas. “Kami tidak mengundang pihak luar. Hanya untuk keluarga keraton,” jelas Ratu. Prosesi upacara panjang jimat tahun ini sedianya dilaksanakan 19 Oktober. Karena terbatas, pembacaan asrakal yang biasa dilakukan di Langgar Agung keraton setempat, tahun ini dilaksanakan di Bangsal Prabayaksa.

“Jadi khusus internal saja. Tidak mengundang siapa-siapa. Tidak mengundang wisatawan. Internal itu perangkat adat, keluarga dan famili. Itu juga harus 25 persen dari kapasitas ruangan. Kita tidak ada undangan dari luar,” pungkasnya. (ade)