Opsi Tutup Garuda, Bukan PMN

oleh -43 views
OPSI TUTUP: Kementerian BUMN memilih opsi penutupan maskapai Garuda bila negosiasi dengan para lender, lessor, hingga pemegang sukuk global gagal dilakukan. Opsi itu mendapat dukungan dari Anggota DPR. FOTO:ISTIMEWA

JAKARTA– Langkah Kementerian BUMN memilih opsi penutupan maskapai Garuda Indonesia apabila negosiasi dengan para lender, lessor pesawat, hingga pemegang sukuk global gagal dilakukan mendapat dukungan dari Anggota Komisi VI DPR RI Evita Nursanty.

Jika negosiasi berjalan alot, maka menurutnya tidak ada pilihan lain selain Kementerian BUMN harus menyiapkan maskapai penerbangan Pelita Air atau maskapai lain sebagai pengganti.

“Saya menilai penyiapan maskapai penerbangan lain untuk menggantikan Garuda Indonesia sebagai antisipasi dari sangat seriusnya situasi saat ini. Kalau memang tidak bisa lagi dinegosiasikan dengan para lessor, lender maupun pemegang sukuk global ya tentu saja seperti kata Kementerian BUMN, opsinya tidak ada lagi kecuali ditutup,” kata Evita, dikutip dari laman resmi DPR, Selasa (26/10).

Legislator Dapil Jawa Tengah III itu menyampaikan DPR sudah menegaskan bahwa opsi lain dengan penyertaan modal negara (PMN) tidak akan mungkin dilakukan. Evita berharap situasi ini bisa ditangkap para lessor untuk bisa memberikan kesempatan kepada Garuda di tengah kondisi tidak adanya opsi lain lagi.

Apalagi terakhir ini terbuka sinyal positif bagi dunia penerbangan setelah dibukanya pariwisata internasional ke Bali, pembukaan umrah, dan lainnya setelah menurunnya Covid-19 secara signifikan di Indonesia. Evita meyakini penutupan Garuda Indonesia itu tidak akan membuat Indonesia kehilangan flag carrier.

Ia mencontohkan di Amerika Serikat, penerbangan sepenuhnya dikelola oleh swasta, dan semua pesawat yang terdaftar di AS disebut flag carrier. Sebuah negara bisa mengganti maskapai national carrier-nya bahkan meniadakannya, termasuk bekerja sama dengan maskapai internasional untuk jadwal penerbangan internasional.

“Kalau saya ditanya saya tentu suka jika Garuda Indonesia tetap ada, tapi kalau kondisinya memang sudah tidak ada jalan keluar lain di mana para lessor dan lender itu tetap tidak mau negosiasi, ya sudah tutup saja,” ujar politisi PDI Perjuangan itu.