Sultan Aloeda dan Santana Kasultanan Cirebon Tolak Festival Seni dan Budaya di Gua Sunyaragi

oleh -1.370 views
festival-seni-dan-budaya
Goa Sunyaragi bakal dijadikan tempat festival seni dan budaya se-nusantara. FOTO:DEDI HARYADI/RADARCIREBON.COM

CIREBON – Festival seni dan budaya yang bakal digelar pada 26 hingga 28 November 2021 mendatang yang rencananya akan dihadiri para sultan dan raja se-nusantara terancam batal dilaksanakan.

Pasalnya, sejumlah keluarga keraton di Cirebon menolak digelar festival tersebut.

Sultan Aloeda II Raden Rahardjo Djali melalui kuasa hukumnya yakni Tjandra Widyanta SH kepada radarcirebon.com mengungkapkan, festival tersebut tidak pantas digelar di saat Keraton Kasepuhan sedang berkonflik.

“Festival ini bakal mengundang polemik yang berkepanjang. Maka dari itu kami akan melakukan somasi terkait pelaksanaan pagelaran festival seni dan budaya yang akan mengundang raja dan Sultan se-nusantara itu,” ungkapnya, Minggu (7/11/2021).

Dijelaskan Tjandra, Keraton Kasepuhan saat ini sedang dalam rangka sengketa dan sudah terdaftar di Pengadilan Negeri Kota Cirebon.

“Jadi tidak bisa seenaknya menggunakan Gua Sunyaragi atau tempat manapun di bawah Kasultanan Kasepuhan untuk event apapun. Kami minta semua pihak dapat menghormati proses hukum yang sedang bergulir agar polemik Kasepuhan tidak terus memanas,” jelasnya.

Sementara itu, keluarga besar Santana Kesultanan Cirebon juga menolak keras rencana penyelenggaraan festival seni dan budaya tersebut.

“Kami keluarga Santana Kesultanan Cirebon menolak terselenggaranya acara tersebut,” kata Sekretaris Buhun Pemangku Adat Santana Cirebon, Hamzaiya kepada radarcirebon.com.

Keluarga Santana Kesutanan Cirebon juga mengajukan sejumlah tuntutan.

“Pertama, majalah Warisan Budaya Nusantara merupakan bagian daripada mitra PT Keraton Kasepuhan Cirebon, dan sejak awal kami para Dzuriah Sunan Gunung Jati Cirebon menyatakan jika kegiatan yang berkaitan dengan Keraton Kasepuhan sebaiknya tidak diselenggarakan karena berpotensi menimbulkan kegaduhan internal yang semakin berkepanjangan,” papar Hamzaiya.

“Yang kedua, Santana Kesultanan Cirebon beserta para Dzuriah Sunan Gunung Jati menginformasikan jika kegiatan tersebut di luar agenda Raja Nusantara dan berindikasi adanya perusakan tatanan adat dan hanya berupaya sebagai proses penguatan legitimasi sosok Lukman Zulkaedin sebagai Sultan Kasepuhan,” imbuhnya.

“Ketiga, saat ini penyelanggaraan kegiatan tersebut akan menimbulkan kerumunan masa yang sudah semestinya pemerintah serta pihak terkait mempertimbangkan kondisi Kota Cirebon ditengah Pandemi Covid-19,” tambahnya lagi. Menurut Hamzaiya, pihak penyelenggara harus membatalkan event tersebut. “Ketiga tuntutan tersebut kami harap bisa menjadi bahan pertimbangan. Jikalau di kemudian hari tetap dilaksanakan kegiatan tersebut maka kami akan melakukan aksi damai penolakan terhadap acara tersebut,” pungkasnya. (rdh)