Surat Sultan Sepuh VII kepada Raffles, Senang Inggris Menaklukan Jawa Meski Dipensiunkan dari Takhta

oleh -4.406 views
meja-raffles-keraton-kasepuhan
Meja hadiah dari Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles kepada Sultan Cirebon. Foto: Yuda Sanjaya/radarcirebon.com

Persahabatan Kesultanan Cirebon dengan VOC berubah menjadi hubungan lalim. Kongsi dagang Belanda itu, menguras kekayaan kerajaan dengan beragam upetinya. Surat Thomas Stamford Raffles kepada Sultan Sepuh VII tentang rencana merebut Jawa pun disambut gembira.

KESULTANAN Cirebon pada mulanya menjalin ”persahabatan” dengan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie), pada 7 Januari 1681. Namun bukan sekadar persahabatan.

VOC dengan segala kekuatannya justru turut campur dalam pemerinahan di kesultanan. Bahkan sampai pada urusan penentuan siapa yang akan bertakhta.

Persahabatan pun sekadar jadi retorika. Kesultanan Cirebon justru dikenakan upeti yang hars dibayarkan setiap tahunnya.

Menyadur Tesis Hazmirullah berjudul Surat-surat Thomas Stamford Raffles dan Sultan Sepuh VII Cirebon: Edisi Teks, Makna Posisi Cap, dan Gambaran Sosial Politik Tahun 1810-1812, yang dipublikasikan Repository Universitas Padjadjaran.

Disebutkan bahwa VOC juga menempatkan seorang residen, dibantu oleh garnisun yang terdiri atas 70 orang berkebangsaan Eropa.

Mereka ditempatkan di sebuah benteng kecil di Distrik Cirebon dan sebuah pos luar di Indramayu (Stockdale, 2014: 232).

Setiap tahun, Kesultanan Cirebon harus menyediakan sedikitnya 100.000 ikat padi dan 1 juta pon gula untuk konsumsi Hindia.

Gula dibeli seharga 1 hingga 1,5 stiver per pon. Sementara untuk keperluan Eropa, Kesultanan Cirebon harus pula menyediakan sedikitnya 30.000 pon benang kapas berkualitas A seharga 14 stiver per pon.

Kemudian 10.000 pon nila dengan harga 30 stiver per pon, dan 1,2 juta pon kopi seharga 2,25 stiver per pon (Stockdale, 2014: 235).

Memasuki tahun 1779, VOC justru merugi. Total kerugian VOC hampir mencapai 85 juta gulden (Raffles, 2014: xxvi).

Lalu pada tahun 1795, utang perusahaan dagang Belanda itu membengkak menjadi 160 juta gulden (Raffles, 1814: 280).

Berita berlanjut di halaman berikutnya…

Baca juga: