Kenali Tanda Bahaya Selama Kehamilan Lebih Dini

oleh -55 views
dr Fannie Anggraeni

KEHAMILAN merupakan anugerah yang di nanti setiap ibu. Kehamilan harus dipersiapkan, dijaga dan dikawal sampai datang ke proses persalinan. Pada masa awal kehamilan banyak ibu hamil yang memberikan perhatian penuh pada kehamilannya, namun seiiring waktu biasanya pemantauan dari trimester pertama hingga ketiga mengalami kelonggaran.

Beberapa ibu hamil malah jarang yang mengetahui tanda-tanda bahaya selama kehamilan. Tanda yang muncul selama kehamilan mungkin terlihat ringan dan wajar dialami oleh seorang ibu hamil. Padahal, tanda tersebut bisa jadi gejala dari kondisi serius yang harus segera ditangani.

Tanda awal bahaya yang pertama adalah perdarahan dari saluran reproduksi. Perdarahan dikatakan normal jika hanya sebatas bercak. Namun, jika volume darah yang keluar cukup banyak dan disertai adanya gumpalan jaringan, kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa ibu hamil mengalami kegugurankehamilan ektopik, atau hamil anggur. Perdarahan tersebut perlu diwaspadai terutama jika disertai nyeri dan kram perut.

Tanda bahaya kedua adalah adanya kontraksi rahim. Kontraksi ringan normal di alami ibu hamil pada trimester kedua atau ketiga, terutama saat ibu hamil merasa lelah atau kekurangan cairan. Kontraksi akan semakin sering terjadi saat hari perkiraan lahir semakin dekat.Namun, kontraksi bisa menjadi tanda bahaya pada kehamilan apabila disertai dengan perdarahan atau keluar cairan dari vagina, ketuban pecah dini, dirasakan semakin kuat, dan terjadi sebelum perkiraan waktu kelahiran bayi. Hal tersebut kemungkinan menandakan ibu hamil akan melahirkan secara prematur atau lebih dini.

Tanda bahaya ketiga adalah mual dan muntah.Kedua kondisi ini wajar dialami oleh ibu hamil, khususnya pada trimester pertama kehamilan. Namun, jika mual dan muntah terjadi secara berlebihan, dapat terjadi dehidrasi, kekurangan elektrolit, kurang gizi, dan penurunan berat badan. Kondisi ini disebut juga hyperemesis gravidarum dan perlu segera ditangani oleh dokter.

Tanda keempat adalah janin kurang aktif bergerak. Janin kurang aktif bergerak bisa menjadi tanda bahwa dia sedang tidur atau Bumil tidak menyadari gerakannya. Namun, janin yang kurang aktif atau bahkan berhenti bergerak dan tidak kembali aktif seperti biasanya juga bisa menjadi tanda dia kekurangan nutrisi atau oksigen. Jika gerakan janin kurang dari 10 kali dalam jangka waktu dua jam, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter kandungan.

Tanda kelima adalah sakit atau nyeri saat buang air kecil. Jika muncul rasa sakit atau nyeri saat buang air kecil, bisa jadi Bumil menderita infeksi saluran kemih yang bisa disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, parasite maupun penyakit menular seksual dari pasangannya.

Tanda bahaya keenam adalah sakit kepala, bengkak-bengkak, dan gangguan penglihatan. Sakit kepala normal terjadi saat hamil, karena tubuh akan mengalami lonjakan hormon dan darah. Sementara, nyeri perut muncul akibat rahim yang terus bertambah besar serta peregangan ligamen dan otot panggul dan sekitar Rahim. Akan tetapi, jika gejala-gejala tersebut disertai oleh gangguan penglihatan, bengkak-bengkak, tekanan darah tinggi, dan kencing berbusa (banyak protein pada urine), bumil perlu berhati-hati, karena bisa jadi hal tersebut menandakan terjadinya preeklamsia.

Tanda bahaya ketujuh adalah munculnya demam saat kehamilan. Demam saat hamil adalah salah satu keluhan yang harus selalu diwaspadai oleh ibu hamil. Hal ini karena bisa jadi demam ini disebabkan oleh adanya infeksi. Infeksi saat hamil bisa terjadi akibat banyak penyakit, misalnya infeksi saluran kemih, infeksi saluran pernapasan, demam tifoid, hingga infeksi pada ketuban. Apa pun penyebabnya, demam yang dialami ibu hamil adalah kondisi yang perlu segera diperiksakan dan diobati oleh dokter. Jika tidak diobati, demam ini bisa berbahaya bagi kesehatan ibu dan janin di dalam kandungan.

Intinya, kehamilan bisa membuat tubuh bumil lebih rentan terhadap berbagai penyakit. Jika Bumil mengalami salah satu tanda bahaya pada kehamilan di atas, segeralah periksakan ke dokter kandungan untuk mendapatkan penanganan yang sesuai. Semoga bermanfaat.  (*)

OLEH: dr Fannie Anggraeni (RS Sumber Kasih)