Kasus Covid-19 Eropa Naik, Kerusuhan di Mana-mana, Imbas Kaum Radikal Anti Vaksin, dan Hoax

oleh -44 views
kerusuhan-eropa
Polisi di Wina, Austria, melakukan razia kartu vaksin kepada pengendara. Foto: Polizei Sterreizh/Wina

WINA – Eropa dilanda kerusuhan di tengah upaya pembatasan merespons kasus Covid 19 yang naik signifikan. Demo terjadi di mana-mana, hingga berujung kekerasan.

Austria menjadi negara yang paling keras melakukan pembatasan. Pemerintah melakukan karantina wilayah dan mewajibkan warganya melakukan vaksinasi.

Kanselir Alexander Schallenberg bersikukuh menerapkan pembatasan ketat. Dia mengatakan langkah itu penting karena penolakan vaksin.

“Karena didorong oleh para penentang radikal antivaksin, berita palsu, terlalu banyak orang yang tak divaksin,” katanya.

“Akibat dorongan kelompok radikal anti-vaksin, berita palsu, terlalu banyak orang yang tidak divaksin,” katanya.

Imbas dari minumnya vaksinasi, angka kesakitan akibat covid-19 membuat fasilitas kesehatan kerepotan.

“Akibatnya unit intensif di rumah sakit penuh dan banyak orang menderita,” tegas dia.

Kerusuhan dan demonstrasi anti pembatasan memang terjadi di sejumlah negara. Di Belgia, para demonstran merusak kendaraan-kendaraan polisi dan mereka dihadapi dengan gas air mata dan semprotan meriam air.

Sabtu (20/11) lalu, sekitar 40.000 orang turun di jalan-jalan di ibukota Austria, Wina, dalam protes damai yang diorganisir oleh partai sayap kanan, Freedom.

Demonstrasi juga terjadi di Italia, Denmark dan Kroasia hingga Belanda.

Direktur Organisasi Kesehatan Dunia, WHO untuk Eropa, Dr Hans Kluge mengatakan kepada BBC, sebanyak 500.000 lagi orang diperkirakan bisa menjadi korban meninggal Covid pada bulan Maret bila tidak ada tindakan yang diambil segera.

Dia mendukung negara-negara Eropa kembali menerapkan pembatasan, tetapi harus dibarengi dengan vaksinasi yang gencar.

Tidak hanya itu, penggunaan masker juga mesti ditekankan kembali. Seperti diketahui, sejumlah negara Eropa memang telah melonggarkan aturan penggunaan masker.

Yang ditengarai erat kaitannya dengan melonjaknya angka infeksi, meski vaksinasi sudah dijalankan. (yud/bbc)

Baca juga: