Target Zero AIDS Butuh Kerja Sama Semua Pihak

oleh -15 views
gencar: Dari bulan Januari sampai dengan Oktober Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon sudah melakukan tes HIV atau layanan AR V sebanyak 32.662 kali.

MOMENTUM Hari AIDS Sedunia yang  diperingati setiap tahun pada tanggal 1 Desember mengusung tema “Akhiri AIDS, Cegah HIV Akses untuk Semua”.

Oleh karena itu, penanganan masalah kasus AIDS, tidak semata cukup dituntaskan satu pihak saja. Apalagi hanya mengandalkan Pemerintah melalui Dinas Kesehatan saja. melainkan memerlukan kerjasama kompak antara pemangku kebijajan, akademisi, sektor usaha hingga elemen masyarakat dan media lainnya.

Bahkan, Pemkab Cirebon beberapa waktu lalu telah melaksanakan Deklarasi Pentahelix secara serentak dilakukan di 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat.

Dimana tujuan akhirnya tiada lain menuju ending (berakhirnya) AIDS tahun 2030. “Setidaknya ada 5 komponen Pentahelix yang terlibat dalam deklarasi ini. Yakni unsur akademisi, bisnis, civil society, pemerintahan (goverment) dan media,” ungkap Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, dr H Bambang Sumardi melalui Kabid Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) disampaikan Kasi P2PM dr Lukman Denianto.

Ia menyebutkan, dalam mengejar capaian tersebut tentunya terus menekan penularan HIV/AIDS di masyarakat. Salah satunya adalah dengan gencarnya layanan ARV atau tes HIV yang dilakukan di seluruh pusat pelayanan kesehatan yang ada di Kabupaten Cirebon.

“Dari bulan Januari sampai dengan Oktober kita sudah melakukan tes HIV atau layanan ARV sebanyak 32.662. Dari sasaran layanan tersebut ditemukan positif HIV sebanyak 181 kasus. Sedangkan tahun lalu (2020, red) sebanyak 251 kasus,” kata Lukman.

Dikatakannya, kasus HIV di Kabupaten Cirebon sampai dengan akhir tahun 2021 sudah 2.500 kasus. Penambahan kasus tersebut tidak terpengaruh oleh pandemi.

“Penularan didoninasi oleh pasangan lelaki suka lelaki (LSL). Kita juga masih rutin melakukan pemeriksaan HIV-nya, terutama untuk populasi khusus, yaitu ibu hamil dan populasi kunci. Populasi kunci itu seperti lelaki suka lelaki, waria termasuk penghuni lapas juga,” jelas Lukman.

Untuk ibu hamil, lanjut Lukman, juga masih perlu banyak pemeriksaan. Sebab dari 50 ibu hamil baru setengahnya dilakukan periksa HIV nya, tujuannya adalah untuk mencegah. Karena semakin sering diperiksa akan bisa mengetahui yang positif dan bisa memeriksa orang sekelilingnya juga. 

“Calon pengantin (Catin) juga kita periksa, karena ini sangat efektif, akan tetapi belum maksimal. Untuk pemeriksaan Catin kita kerjasama dengan KUA, karena kita juga inginkan setiap catin diperiksa HIV nya IMS nya serta lainnya. Cuman kalau untuk HIV kan harus ada konseling dan persetujuan dari yang bersangkutan dulu,” jelas Lukman.

Pihaknya berharap, kepada pengidap HIV/AIDS yang ada di sekitar kita janganlah dikucilkan, karena untuk berobat dan lainnya akan susah.

“Jangan dikucilkan, mereka tetap teman kita, saudara kita harus kita rangkul. Nanti kan bisa melawan virus, seperti Covid juga kan imunitasnya jadi bagus,” pungkasnya. (dri/adv)