Kesaksian Ujang Ngobrol dengan Teman Yang Sudah Meninggal

oleh -6.220 views
Terminal-Harjamukti-Cirebon

TIDAK disangka, kehidupan Ujang harus diwarnai pengalaman ngobrol dengan teman yang sudah meninggal.

Pengalaman ngobrol dengan teman yang sudah meninggal sehari sebelumnya itu, dialaminya sewaktu masih sering pulang pergi Cirebon-Jakarta.

Baca Juga!

Ujang yang tinggal di salah satu desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kuningan ini, saat itu sedang memiliki usaha di ibu kota.

Perjalanan ke Jakarta dari Cirebon atau sebaliknya, bisa terjadi dalam seminggu sekali, bahkan setiap hari.

Memang, warga desa tersebut mayoritas memiliki tradisi mengadu nasib di luar kota, kebanyakan dari mereka Jakarta menjadi kota tujuan.

Ujang yang waktu itu mengurus bisnisnya di Jakarta, suatu ketika, urusan selesai dan berniat pulang ke Cirebon.

Dari Jakarta, dirinya memutuskan pulang kampung menggunakan bus yang memiliki ciri khas warna hijau jurusan Kuningan.

Dalam perjalanan, Ujang tidak memiliki pirasat apa pun, duduk santai sambil menikmati pemandangan yang dilewati bus selama perjalanan.

Menjelang magrib, bus sampai di Terminal Harjamuti Kota Cirebon, penumpang dengan tujuan Cirebon segera turun untuk berganti kendaraan.

Penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan ke Kuningan tidak beranjak dari tempat duduk, mereka tetap di bus sambil mengamati penumpang yang baru naik.

“Kalau sudah lewat magrib, orang yang menuju arah Kuningan lebih memilih naik bus, meski elf jurusan Kuningan juga ada,” ujar Ujang mengenang waktu itu.

Satu persatu penumpang dari Terminal Harjamukti jurusan Kuningan naik, kursi yang sudah kosong di tinggal penumpang jurusan Cirebon, kembali tersisi.

Sejurus kemudian, Ujang dikagetkan dengan penumpang dengan wajah yang tidak asing bagi dirinya.

Orang tersebut merupakan teman di kampung halamannya, yang juga ikut naik bersama rombongan penumpang lain di Terminal Harjamukti.

“Saat itu saya sampai bangun dari tempat duduk untuk memanggil namanya,” kata Ujang.

Tetapi teman yang dipanggil, tidak seketika merespon teriakan Ujang, temannya memilih duduk di deretan kursi paling belakang.

“Waktu itu saya tidak curiga yang macam-macam,” kilah Ujang.

Baca Juga!

Merasa yakin bahwa yang dipanggil merupakan teman di kampungnya, Ujang pindah kursi untuk bisa duduk di sampingnya yang kebetulan kosong.

“Saya ajak ngobrol nyambung, tapi saya perhatikan mukanya seperti beda,” ujar pria yang sekarang menjadi kontraktor bangunan ini.

Ada perbedaan di raut wajah temannya itu, Ujang tidak berusaha mencari jawaban dengan menanyakan langsung kepada temannya itu.

Ujang beranggapan, mungkin temannya itu sedang mengalami masalah yang tidak mau diceritakan kepada dirinya.

“Untuk menghilangkan rasa canggung, saya tawarin dia rokok, tetapi dia tidak mau,” tambah Ujang.

Saat itulah Ujang merasa heran, dirinya tahu persis kalau temannya tersebut memiliki kegemaran yang sama, yakni menghisap rokok, mereknya pun sama.

Tawaran rokok ditolak, ditambah sikap dari tadi berbeda, membuat Ujang mulai menaruh kecurigaan kepada temannya itu.

“Waktu dia naik bus dia menenteng kantung plastik hitam, isinya apa saya tidak tahu tapi dari bentuknya seperti bola, bundar,” papar Ujang menceritakan kondisi waktu itu.