60 Hari Tidak Hujan, Sejumlah Daerah di Jabar Sudah Mulai Kekeringan

SUDAH KEKERINGAN: Kepala BPDB Provinsi Jawa Barat Supriyatno (tengah) berbicara mengenai penanggulangan bencana kekeringan di Jawa Barat dalam acara Jabar Punya Informasi (Japri) ke-32 di halaman parkir Timur Gedung Sate, Bandung, kemarin (9/7). FOTO: MOHAMAD JUNAEDI/RADAR CIREBON
SUDAH KEKERINGAN: Kepala BPDB Provinsi Jawa Barat Supriyatno (tengah) berbicara mengenai penanggulangan bencana kekeringan di Jawa Barat dalam acara Jabar Punya Informasi (Japri) ke-32 di halaman parkir Timur Gedung Sate, Bandung, kemarin (9/7).FOTO: MOHAMAD JUNAEDI/RADAR CIREBON

BANDUNG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat melaporkan, sejumlah kabupaten/kota di Jawa Barat mulai kekeringan.

Antara lain, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Subang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon dan Kota Tasikmalaya.

“Data yang kami rilis, berdasarkan laporan dari kabupaten/kota yang sudah masuk kepada kami, warga sudah terasa kekeringan” kata Kepala BPDB Provinsi Jawa Barat, Supriyatno saat menjadi narasumber dalam acara Jabar Punya Informasi (Japri) ke-32 di halaman parkir Timur Gedung Sate, Bandung, kemarin (9/7).

Menurutnya, dari kota/kabupaten yang disebutkan, khusus untuk Kota Tasikmalaya dan Kota Bogor, kekeringan air berlaku untuk konsumsi rumah tangga. “Kota Tasikmalaya tiap tahun selalu kekeringan, khususnya untuk sumber air minum,” tuturnya.

Sementara, kekeringan yang terjadi di Kota Bogor yang notabene terkenal dengan Kota Hujan, berdasarkan analisisnya, karena minim daerah resapan air. Sehingga, air hujan yang turun tidak meresap ke dalam tanah, tapi langsung mengalir ke sungai-sungai.

“Kekeringan bersumber dari sumber air dalam yang biasa digunakan untuk kebutuhan air minum dan konsumsi sehari-hari,” imbuhnya.

Terkait penanggulangan kekeringan untuk kebutuhan air irigasi, BPBD juga mengajak TNI/Polri untuk bersama-sama mengamankan tata gilir air yang selama ini senantiasa riskan.

“TNI/Polri dilibatkan karena mereka sangat responsif atas persoalan yang terjadi di masyarakat, terutama dalam bidang kebencanaan,” bebernya.

Walaupun demikian, pihaknya berharap persoalan tata gilir air berjalan lancar dan kebutuhan suplai air tidak menyusut karena Jawa Barat sekarang sudah punya Waduk Jatigede. “Mudah-mudahan sudah bisa mengurangi dampak kekeringan,” ungkapnya.

Sementara, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung, Tony Agus Wijaya menjelaskan bahwa musim kemarau tahun 2019 di Jawa Barat, berdasarkan pantauannya, relatif normal.

Sebab, di wilayah Jawa Barat, bagian tengah dan selatan masih mendapatkan curah hujan, meski sedikit intensitasnya. Namun, ada beberapa daerah di wilayah utara yang sudah 60 hari berturut-turut tidak mendapatkan hujan.

“Ada tiga kabupaten yang sudah 60 hari berturut-turut tidak diguyur hujan, yakni Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang dan Kabupaten Indramayu. Tempat-tempat ini berpotensi mengalami kekeringan,” jelasnya.

Dia menyebut, di musim kemarau, tidak hanya bencana kekeringan saja yang perlu diwaspadai. Bencana lain yang perlu diperhatikan adalah kebakaran. “Ini perlu kita waspadai. Sebab, banyak lahan kering dan sangat mudah terbakar,” sebutnya.

Terkait update data cuaca, pihaknya akan kembali merilis pada tanggal 11 Juli. Sebab, BMKG melakukan update setiap 10 hari sekali sejak tanggal 1 Juli. “Nanti kita update lagi, tapi efek El Nino bagi Indonesia sampai dengan sekarang berdampak kecil,” pungkasnya. (jun)