7.500 Hektare Sawah di Indramayu Puso

Petani-di-sejumlah-wilayah-sudah-mulai-panen-(1)
PANEN: Petani di wilayah Kecamatan Juntinyuat Kabupaten Indramayu tengah melakukan panen padi. FOTO: UTOYO PRIE ACHDI/RADAR INDRAMAYU

INDRAMAYU – Akibat kekeringan yang masih berlangsung di Indramayu, sebanyak 7.500 hektare lahan sawah sudah dinyatakan puso. Kendati banyak puso, pemerintah daerah tetap mengupayakan target produksi padi tahun ini tercapai.

Kepala Dinas Pertanian Indramayu Takmid megatakan, ribuan lahan puso itu tersebar di wilayah Indramayu seperti Kroya, Kandanghaur, Gabus Wetan, Losarang, dan Gantar. Meski puso, masih ada sebagian lahan yang tengah melaksanakan panen. Takmid mengatakan, dari 110.000 hektare lahan baru 20 persen di antaranya saja yang sudah panen.

Kebanyakan wilayah panen berlokasi di wilayah hulu sumber irigasi. Lahan di sana sudah tidak lagi membutuhkan pasokan air. Dengan demikian air bisa mengalir ke wilayah hilir. Namun sayangnya gelontoran air itu dirasa percuma karena lahan di hilir mayoritas sudah mati.

Banyaknya lahan puso, diakui Takmid, bisa mempengaruhi produksi padi di Indramayu. Sebagai gambaran setiap hektare lahan persawahan mampu menghasilkan padi hingga 6 hektare.

“Jika dikalikan dengan lahan puso maka kehilangan produksi mencapai 45.000 ton. Jika dikalikan dengan harga gabah Rp4070 per kilogram kerugian materi yang diderita capai Rp183 miliar. Target produksi tahun ini 1,7 juta ton,” tuturnya.

Menurutnya, peran penyuluh pertanian saat ini sudah dimaksimalkan. “Mereka terus diterjunkan ke lapangan untuk membimbing petani di lahan-lahan puso. Salah satu bimbingan yang diberikan yakni pembinaan tanam metode gogo sawah,” ujarnya.

Gogo sawah, lanjutnya, dilakukan di lahan yang minim sumber pengairan. Takmid berharap, metode itu bisa kembali meningkatkan produksi padi yang lesu akibat kekeringan.

Terkait dengan asuransi tani, Takmid menyayangkan masih minimnya peserta. Padahal asuransi sangat berguna bagi petani yang tengah ditimpa kesusahan di musim kemarau ini.

Betapa tidak, dengan premi Rp 36.000 per hektare per musim tanam mereka bisa mengklaim hingga Rp 6 juta jika gagal panen. “Sejak awal petani diajak ikut asuransi pertanian, tapi banyak alasan ketika puso baru minta bantuan,” ujar Takmid.

Pantauan Radar Indramayu, meski banyak sawah yang megalami puso, namun di sejumlah wilayah saat ini sudah mulai menikmati panen. Seperti di wilayah Kecamatan Juntinyuat, Karangampel, dan Balongan. Menurut salah seorang petani, Dasmin, panen kali ini lumayan bagus karena tidak ada serangan hama. (oet)