Ada Pelet “Ramah” dan “Raksasa”

Ke Tiongkok Belajar Energi Terbarukan dari Biomas

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke Tiongkok bersama mantan Menteri BMUN Dahlan Iskan. Selama 6 hari mengunjungi Kota Guangzhou, Shanghai, dan Chanchung. Banyak hal didapat. Tapi yang paling utama belajar energi terbarukan dari biomas.

***

Mula-mula mengunjungi pameran industri biomas di Guangzhou. Banyak stand industri biomas di expo tersebut. Tapi yang paling banyak industri pengolah kayu menjadi pelet. Saya sangat menikmati pameran tersebut. Banyak mesin-mesin baru dipamerkan. Yang paling menarik bagi saya stand salah satu produk yang cukup lengkap. Dari mesin pencacah, pemanas, mesin pelet, mesin pendingin, hingga mesin kemasan.

Selain formasi lengkap, juga ramah dengan pekerja. Yakni mesin-mesin tersebut bisa mengurangi polusi debu. Sebab kerja utama pabrik adalah mengolah serbuk menjadi pelet menimbulkan polusi debu. Debu menjadi momok bagi pengelola industri pelet kayu untuk energi. Walaupun cakupannya hanya dalam pabrik.

Sudah setahun ini Radar Cirebon Group memiliki pabrik pelet kayu. Lokasinya di Desa Rawa, Kecamatan Cingambul, Majalengka. Persoalan yang paling sulit diatasi adalah polusi debu dalam pabrik. Segala macam cara sudah ditempuh. Hasilnya sangat tidak memuaskan. Hanya bisa mengurangi sedikit.

Nah, di expo di Guangzhou tersebut menampilkan mesin yanga sangat ramah lingkungan. Yang paling utama bisa meminimalkan polusi debu. “Ini mesin menarik. Bisa mengatasi debu serbuk kayu. Kayaknya ini yang terbaru,” ungkap Dahlan Iskan mengajak saya diskusi dengan pengelola stand tersebut.

Ketertarikan berikutnya ada satu stand ‎yang menampilkan pelet yang tak lazim. Biasanya ukuran pelet itu diameternya 6 atau 8 mili meter. Tapi dari mesin tersebut tak lazim. Membuat pelet kayu ukuran “raksasa”. Ukurannya bisa dua sampai 4 kali lipat.  Bahkan ada yang sebesar lengan bayi  baru lahir.

Informasi dari pengelola stand, dengan menggunakan mesin pelet kayu ukuran besar, banyak keunggulan. Selain mudah pengolahannya, juga hemat energi yang digunakan. Ada lagi, ternyata mesin cukup tahan lama. Bisa dioperasikan 18 jam sehari. Padahal mesin pellet kayu standar rata-rata hanya 12 jam sehari.

Sebenarnya masih banyak yang menarik, terutama teknologinya. Tapi secara umum hanya pengembangan saja. Dasar dan standarnya sama. Tapi dua stand tersebut yang paling istimewa. Yang harus diacungi jempol adalah terobosan pengembangan industri mesin pelet kayu di Tiongkok. Pesat dan terus berkembang setiap tahun.

Bahkan sekarang sudah menjadi kiblat mesin pelet dunia. Mengalahkan Eropa.

Keunggulan lain mesin cetak buatan Tiongkok adalah harganya. Jauh lebih murah dibanding Jepang, apalagi Eropa. Saya pernah berkunjung ke beberapa pabrik wood pelet di negeri tersebut, beberapa tahun yang lalu. Termasuk pabrik-pabrik yang ikut pameran di Guangzhou.

Kesadaran Tiongkok untuk mengolah energi dari biomas sudah sangat tinggi. Itu yang mendorong tumbuhnya pabrik-pabrik mesin pelet di sana. Produk pelet mereka selain dipakai untuk industri dalam negeri, juga diekspor. Kebutuhan dan kesadaran energi terbarukan dari biomas, sangat tinggi. Mereka sangat sadar, energi dari fosil, ada batasnya.

Sekarang ini pembeli mesin buatan Tiongkok itu sudah mendunia. Kalau di Asia Tenggara paling besar dipesan Vietnam. Setelah itu Thailand dan Malaysia. Indonesia paling bontot. Bahkan kalah dengan Filipina. Begitu juga segaris lurus dengan produksi pelet. Indonesia yang paling kecil produksinya. Padahal dilihat dari ketersediaan bahan baku, logikanya Indonesia yang paling banyak dibanding dengan negara Asia Tenggara tersebut.

Tapi mengapa kita paling bontot? Inilah yang memprihatinkan. Ada dua hal yang membuat kita sangat tidak menonjol dalam hal tersebut. Pertama, tentu kesadaran kita tentang energi baru terbarukan biomas. Kita lebih suka membakar fosil: minyak, gas dan batubara. Padahal banyak pulau kita yang tidak bisa dialiri listrik dan byar pet karena kurangnya pasokan bahan baku dari fosil tersebut.

Seharusnya biomas menjadi solusi. Selain bahan bakunya melimpah, banyak tanaman yang bisa ditanam untuk bahan baku tersebut. Misalnya kaliandra merah, gamal dan polonia. Kedua, bahan baku yang kita meliki itu ternyata dimanfaatkan oleh negara tetangga.

Terutama Malaysia. Serbuk kayu yang begitu melimpah di Tanah Air kita, ternyata dijual ke Malaysia dengan harga sangat murah. Oleh negeri Jiran tersebut diolah menjadi pelet dan sebagian besar diekspor ke Korea Selatan dan Jepang.

Bahkan saya sering didatangi oleh calo-calo pelet kayu dari Malaysia untuk menjual produk kami ke negeri tersebut. Tentu dengan harga yang sangat rendah. Itulah yang juga mengagetkan saya. Ternyata dalam peta produsen pelet kayu, peta Indonesia masuk Malaysia. Sedih. ‎Memang belakangan banyak pabrik pelet kayu di Indonesia. Tapi sebagian besar milik Korea dan Malaysia. Seperti di Semarang, Surabaya, Wonosobo dan Jogjakarta.

Di Purworejo, BUMN juga berencana membuat proyek wood pelet. Dari penanaman kayu hingga pengadaan pabrik produksi pelet. Tapi sepertinya juga tidak serius. Rencana besar tapi kelanjutannya sangat tidak jelas. Belakangan Jepang juga sangat minat mendirikan industri pelet kayu di Indonesia.

Bahkan mereka akan memulai menanam kayu tinggi kalori ribuan hektar di Indonesia. Berkali-kali, utusan perusahaan listrik negara milik Jepang menemui saya. Mereka tukar pikiran soal industri pelet. Terutama yang berbahan baku kaliandra merah. Mereka sangat serius. Karena negeri Sakura tersebut tak mau kalah dengan Korea Selatan. Apalagi setelah ada persoalan PLTN akibat tsunami beberapa tahun lalu.

Yang jelas, tahap pertama Jepang akan menanam 3.000 hektar kayu polonia atau jati jepang di Purwakarta-Karawang. Entah lahan siapa yang dipakai. Tapi sepertinya milik perusahaan BUMN. Setelah itu mereka akan membangun pabrik pelet kayu setidaknya berkapasitas 4.000 ton per jam.

Bukan itu saja. Mereka masih mencari tanah untuk ditanam polonia. Pernah survei ke Ciamis dan Tasikmalaya‎. Tapi lokasi kurang cocok karena kontur tanahnya tidak rata alias berbukit. Kalau kesuburan tanahnya sangat cocok. Bahkan Jepang pun sangat tertarik dengan tanah datar di Pontianak.

Saya pun pernah ke lokasi tanah tersebut. Hanya 15 menit dari Bandara Supadiyo Pontianak. Luasnya memenuhi ‎syarat. Lebih 3.000 hektare. Konturnya datar dan juga subur. Belum Korea. Mereka juga ramai-ramai membuat pabrik di Indonesia. Di Wonosobo sudah beroperasi, walau ada masalah teknis. Katanya juga sedang mengincar Jombang, Jatim.

Nah, kalau sudah seperti ini, apakah kita akan terus berpangku tangan? Apakah kita hanya senang menyaksikan hebatnya industri pelet kayu milik Korea, Jepang dan Malaysia. Semoga tidak.

Saya sudah setahun lebih ini menekuni pabrik pelet kayu di Cingambul, Majalengka. Masih sangat kecil. Tapi sudah bisa untuk belajar. Tentang harus ke mana dijual hasil peletnya? Sejujurnya, tak perlu mikir ekspor yang muluk-muluk. Sebenarnya banyak industri kita yang membutuhkan dan seharusnya membutuhkan energi tersebut.

Pabrik teh, pabrik tahu dan yang lainnya sangat membutuhkan. Lebih hemat dan ramah lingkungan. Apalagi di pulau-pulau yang belum mendapat aliran listrik. Satu-satunya jalan adalah ya energi baru terbarukan. Di antaranya biomas. Tapi ini tidak mudah. Butuh kesadaran dan kesabaran semua pihak. (*)