Air Laut pun Bisa Diminum

Heriyawan memperlihatkan air layak konsumsi yang merupakan hasil sulingan air laut. FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON
Heriyawan memperlihatkan air layak konsumsi yang merupakan hasil sulingan air laut. FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON-Kebutuhan air bersih untuk konsumsi adalah mutlak untuk semua makhluk hidup. Tapi bagaimana jika berada di pesisir pantai yang begitu sulit untuk mendapatkan akses air bersih? Heriyawan, salah satu petani garam yang menggunakan teknologi rumah prisma dan sistem tunel di Desa Bungko Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon sudah bisa mengubah air laut yang asin itu untuk layak dikonsumsi manusia.

Ya, berada sangat dekat dengan bibir pantai bukan menjadi halangan bagi Heriyawan dan beberapa rekannya untuk tetap mendapatkan air bersih guna konsumsi sehari-hari. Bukan dari jaringan pipa PDAM ataupun sumur pantek. Ia justru mendapatkan pasokan air bersih untuk konsumsi dari penyulingan air laut yang dilakukan di rumah prisma.

Kualitas airnya pun sangat bagus karena penyulingan atau destilasi saat ini masih dianggap cara paling mudah untuk melakukan pemurnian air. Menurut Heriyawan, untuk melakukan proses destilasi itu tidak menggunakan teknologi yang rumit ataupun harus bantuan alat-alat modern.

Proses destilasi yang dilakukan masih menggunakan metode alami dengan cara mendidihkan air di dalam rumah prisma dengan cara dipanaskan menggunakan sinar matahari dan uap yang muncul ditangkap oleh atap rumah prisma. “Ini mudah sekali,” ujarnya.

Mudah itu, kata Heriyawan, air laut diambil kemudian dimasukan ke rumah prisma, dipanaskan menggunakan pemanas alami dan uap yang muncul ditangkap oleh atap rumah prisma. “Setelah itu dilakukan tahap kondensasi dan uap yang terkumpul dialirkan ke pipa yang sudah disediakan serta dikumpulkan di satu wadah penampungan,” jelasnya.

Setiap hari, dari 10 rumah prisma yang ia buat khusus untuk memproduksi air bersih, ia bisa menghasilkan air bersih untuk konsumsi sebanyak satu toren (tangki air) berukuran sedang. Jumlah tersebut menurut Heriyawan sangat cukup untuk kebutuhan ia beserta dua rekannya setiap hari.

“Jadi tidak hanya siang, malam pun terus produksi. Di dalam rumah prisma itu tertutup dan suhunya begitu panas meskipun malam hari. Sehari bisa satu toren ukuran sedang. Kita punya 10 rumah prisma,” imbuh Heriyawan.

Untuk bahan baku rumah prisma, sambung Heriyawan, diperlukan plastik khusus ultraviolet serta bak penampung dari geomembrane yang dipasang di kerangka dari bambu dan dipasang beberapa pipa untuk penangkap dan dialirkan ke tempat penampungan air. Ia mengatakan itu tak mahal.

“Tidak mahal, bisa dilihat sendiri. Ini lebih murah ketimbang setiap hari harus beli air. Apalagi jaraknya begitu jauh dari pemukiman. Airnya pun sehat, lebih adem ketimbang air yang biasa kita minum. Kalau tidak percaya coba saja,” seru Heriyawan kepada Radar Cirebon sambil memberikan sebotol air destilasi yang sudah siap dikonsumsi. (dri)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait