Air Waduk Darma Sisa 15 Juta Kubik, Minggu Depan Pintu Air Ditutup

WADUK DARMA

KUNINGAN – Volume air Waduk Darma saat ini tersisa 15 juta meter kubik, atau tersisa 41 persen dari debit awal 36 juta kubik. Sesuai jadwal, pertengahan bulan Oktober nanti pintu air Waduk Darma untuk kebutuhan irigasi akan ditutup.

Petugas pengelola Waduk Darma Ahmad M Zamanuddin mengatakan, sejak per tanggal 1 Oktober pintu air Waduk Darma pun dibuka hanya 1 meter kubik per detik. Angka tersebut mengalami penurunan dari debit air yang dikeluarkan pada pertengahan September lalu yang mencapai 2 meter kubik per detik.
“Pengeluaran air Waduk Darma sudah dijadwal sejak awal musim kemarau, dari sebelumnya pernah 3 kubik per detik, kemudian turun menjadi 2 kubik dan para awal Oktober ini menjadi 1 kubik per detik. Sesuai jadwal pula, pada pertengahan Oktober nanti pintu air untuk irigasi akan ditutup karena prediksi sudah memasuki musim hujan dan debit air diperkirakan mendekati dead storage,” ungkap Ahmad kepada Radar, kemarin.
Ahmad menjelaskan, jadwal penutupan pintu air pada pertengahan Oktober nanti berdasarkan perhitungan perkiraan volume air waduk Darma sudah mendekati dead storage yakni di kisaran 7,5 juta meter kubik. Meski demikian, lanjut Ahmad, jika melihat volume air Waduk Darma sekarang masih 15 juta kubik dan diprediksi pada pertengahan Oktober nanti masih di kisaran 10 hingga 11 juta kubik, namun pintu air tetap akan ditutup sesuai jadwal.
“Kami harus menjalankan jadwal yang sudah dibuat. Tapi tidak menutup kemungkinan air masih dialirkan kalau ada permintaan dari petani. Namun akan disesuaikan dengan kebutuhan dan perhitungan cadangan air waduk. Ini selain untuk menjaga konstruksi bendungan, juga untuk kebutuhan air PDAM masih tercukupi hingga musim penghujan tiba,” papar Ahmad.
Penutupan pintu air juga, kata Ahmad, dimanfaatkan untuk perawatan dan perbaikan saluran irigasi menuju areal pertanian. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan agenda rutin tahunan petugas memperbaiki saluran irigasi dari kebocoran atau kerusakan untuk menghadapi musim penghujan.
Dampak semakin surutnya volume air Waduk Darma juga terlihat dari garis air di dinding bendungan yang semakin tinggi dan bermunculannya tanah timbul di tengah waduk. Tak sedikit warga yang memanfaatkan tanah timbul tersebut untuk bercocok tanam seperti padi hingga palawija.
Menanggapi hal tersebut, Ahmad mengaku tidak bisa berbuat banyak karena sudah merupakan tradisi turun temurun setiap musim kemarau tiba. Hal ini karena warga beralasan tanah yang mereka garap adalah tanah warisan nenek moyangnya.
“Sebenarnya tidak boleh masyarakat bercocok tanam di lahan kawasan Waduk Darma. Namun alasannya tanah tersebut adalah milik nenek moyang mereka dan sudah turun temurun ditanami saat tanah tersebut kembali muncul. Kalau sudah begini kami tidak bisa berbuat banyak,” pungkas Ahmad. (fik)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait