Akses Jalan Nyaris Putus, Jalan di Sisi Sungai Cijangkelok Ambles

Akses jalan di Blok Cihoe Desa Ciledug Wetan kembali ambles. Akses jalan nyaris putus dan pengendara harus melewati jalu itu bergantian. FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON
Akses jalan di Blok Cihoe Desa Ciledug Wetan kembali ambles. Akses jalan nyaris putus dan pengendara harus melewati jalu itu bergantian.FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON-Akses jalan penghubung antara Ciledug menuju Tanjung Anom melewati Blok Cihoe nyaris putus. Akses jalan alternatif tercepat tersebut ambles dan hanya bisa dilintasi secara bergantian jika menggunakan sepeda motor.

Amblesnya jalan tersebut terjadi pada Senin (11/3) lalu. Setiap harinya, longsor susulan terus terjadi. Terlebih, debit Sungai Cijangkelok beberapa hari terakhir selalu tinggi. Ditambah lagi, struktur tanah di jalan yang longsor rapuh dan labil.

Kuwu Desa Ciledug Wetan, Sudin kepada Radar menuturkan, longsor yang terjadi saat ini sebenarnya bukan longsor baru. Longsor tersebut adalah akumulasi dari longsor-longsor yang terjadi selama beberapa tahun terakhir selama musim hujan.

“Awalnya beberapa tahun lalu ambles, coba diatasi dengan bikin penahan bambu tapi tidak berpengaruh karena tetap terjadi longsoran. Sudah kita upayakan dengan koordinasi bersama BBWS tapi sampai sekarang masih seperti ini kondisinya, belum ada penanganan berarti,” ujarnya.

Setiap harinya, menurut Sudin, ada ratusan orang yang lalu lalang melalui jalur tersebut dari mulai anak sekolah, orang yang berangkat kerja, kepusat pelayanan kesehatan dan pelayanan umum. Termasuk, dirinya yang harus setiap hari berangkat melewati lokasi jalan yang ambles tersebut.

“Kalau pagi harus antre, harus bergantian tidak bisa bareng. Apalagi kalau debit Cijangkelok naik ya otomatis gak bisa dilalui karena bagian jalan berada di bawah yang otomatis terendam limpasan Cijangkelok,” jelasnya.

Sementara itu, Camat Ciledug H Solohin HS menuturkan, pihaknya masih menunggu penanganan dan keseriusan pihak terkait dalam memperbaiki tanggul yang juga dijadikan akses jalan tersebut. Menurutnya, pihak terkait yang paling berwenang adalah BBWS yang dalam hal ini sebenarnya sudah sering ia berikan laporan terkait kondisi akses jalan tersebut. “Saya sudah sering laporan ke BBWS, sudah sering juga lokasi ini dikunjungi dan dimonitor, tapi ya sampai sekarang tetap seperti ini , tidak ada perubahan berarti,” ungkapnya.

Terkait situasi tersebut, pihaknya sebenarnya punya dua alternatif yang bisa dilakukan namun keduanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk realisasinya. “Solusi yang pertama itu menggeser posisi jalan lebih masuk, tapi tentunya butuh biaya karena itu nanti harus membebaskan lahan milik warga yang akan digunakan untuk jalan. Ini lebih baik ketimbang tetap di lokasi yang sekarang, diperbaiki seperti apapun tetap kembali longsor,” bebernya.

Untuk solusi yang kedua, Solihin menawarkan dibangunnya jembatan atau jalan layang dari titik longsor ke titik jalan yang masih dalam kondisi normal sehingga posisi jalan tidak terpengaruh debit air. “Tapi menurut saya lebih realistis membebaskan tanah warga. Nanti akan kita sampaikan ke pimpinan untuk tindak lanjutnya, kita yang di lapangan tentu menunggu komando sambil berharap longsor tidak menjadi lebih parah,” pungkasnya. (dri)