Al Aqsa di Pusaran Skenario Yinon

Masjidil Al Aqsa (Net)

Bukanlah sesuatu yang mengejutkan bagi siapa pun yang telah mengikuti dan mempelajari kawasan Timur Tengah, bahwa kawasan ini tengah berhadapan dengan suatu kesulitan besar.

Semakin jelas terlihat bagaimana kawasan ini memiliki hubungan dengan kehancuran peradaban yang disebabkan oleh keyakinan seorang Theodore Herzl, bahwa wilayah Negara Yahudi membentang: “Dari Sungai Mesir hingga Eufrat.”

Keyakinan seperti ini memang tidak perlu dibantah. Yang hendak dikatakan adalah untuk mengingatkan adanya pernyataan paling eksplisit, rinci, dan jelas sampai hari ini perihal strategi Zionis di Timur Tengah. Bahkan, menjadi representasi akurat “visi” rezim Zionis Begin, Sharon, dan Eitan. Adalah skenario Yinon yang dianggap sebagai The Zionist Plan for the Middle East, also known as the Yinon Plan, is an Israeli strategic plan to ensure Israeli regional superiority. It insists and stipulates that Israel must reconfigure its geo-political environment through the balkanization of the surrounding Arab states into smaller and weaker states.

The Armed Forces Journal juga merilis sebuah peta negeri-negeri muslim. Negeri-negeri di Timur Tengah dibagi berdasarkan etnis dan aliran kepercayaan. Angkatan bersenjata Amerika Serikat dan sekutunya berperan dalam pembentukannya. Persis seperti agenda Kelompok Neo Conservative. 

Laporan The Armed Journal didasari artikel Ralph Peter—pensiunan letnan kolonel di Dinas Intelijen Angkatan Darat Amerika Serikat—memaparkan rencana perubahan peta dunia Islam. Dalam artikel bertajuk Blood Borders; How a Better Middle East Would Look itu, Peters menggambarkan negara-negara Islam yang terbentang dari Timur Tengah hingga Asia Selatan itu menjadi negara-negara baru. Pensiunan militer yang memiliki nama pena Owen Parry ini menegaskan tujuan sebenarnya dari keberadaan pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah, menguasai sumber-sumber minyak, “Meanwhile, our men and women in uniform will continue to fight for security from terrorism, for the prospect of democracy and for access to oil supplies in a region that is destined to fight itself.”

Jika ditelisik lebih lanjut, skenario perubahan peta negara-negara Muslim Timur Tengah ini sejalan dengan laporan yang dimuat majalah Kivunim edisi 14 Februari 1982 yang dikutip koran Mesir al-Ahram al-Iqtishadi skenario persis sebagaimana yang terjadi di Irak dan diberlakukan terhadap Suriah sejak saat itu.

Sebagian besar rencana yang dimuat di dalamnya telah terwujud di Irak dan Sudan, Mesir, Libya, Yaman, dan Suriah. Hingga hari ini, negeri-negeri tersebut masih dilanda konflik. Masih dalam laporan Kivunim ditulis, Suriah secara mendasar tidak berbeda jauh dengan Libanon yang terdiri dari faksi-faksi yang berbeda, kecuali dari segi pemerintahan junta militer yang berkuasa.

Tapi konflik vertikal antara mayoritas Sunni dengan minoritas Syiah-Nushairiyah yang berkuasa mengindikasikan potensi konflik yang rumit. Memecah Suriah dan Irak berdasar kelompok ras atau agama menjadi negara-negara kecil yang indipenden di masa depan di kawasan Timur. Suriah kelak akan menjadi negara-negara kecil sesuai dengan komponen ras dan sekte di dalamnya.

Yang jelas. Skenario Yinon sedang berjalan sesuai dokumen kebijakan yang ditulis pada 1996 oleh Richard Perle dan Kelompok Studi mengenai “Strategi Baru Israel Menuju Tahun 2000” untuk Benjamin Netanyahu, perdana menteri Israel waktu itu, bernama dokumen  “Clean Break”. 

Mungkin timbul pertanyaan, mengapa Zionis mempublikasikan dokumen ini? Jawabannya diberikan oleh Israel Shahak, penerjemah dokumen ini ke dalam bahasa Inggris. Menurutnya, publikasi dokumen ini ditujukan untuk orang-orang Yahudi sedunia agar mereka lebih memahami (dan mendukung) strategi politik Israel.

Dalam perhitungan mereka (dan ini terbukti hingga sekarang), bangsa-bangsa Timur Tengah tidak akan terlalu peduli pada dokumen ini dan tidak akan melakukan langkah-langkah strategis untuk melawan rencana dan strategi jangka panjang Zionis ini.

Seperti yang telah diungkapkan diatas, artikel yang bertajuk Peters’ “Blood borders” map dan dimuat dalam laman The Armed Forces Journal membuktikan skenario Yinon dan dokumen Clean Break juga menguatkan bagaimana nasib Masjidil Al Aqsa?

Bulan September 2018, sebuah kelompok kuil (Templar) memprotes di Kota Tua Yerusalem atas ketidakmampuan untuk mengubah Haram al-Sharif dari situs suci Muslim menjadi situs Yahudi, dan menyebut para penghuninya saat ini sebagai “orang asing yang menajiskan bukit suci tersebut.”

Mereka mendaki Haram al-Sharif di Yerusalem, berharap untuk terus hadir dan bertambah banyak, di mana mereka datang ke situs masjid Al-Aqsa dan Dome of the Rock, yang merupakan beberapa tempat suci Muslim terpenting di dunia dan simbol-simbol kuat dari Nasionalisme Palestina.

“Terdapat peningkatan yang nyata, baik dalam jumlah pemukim yang menyerang Al-Aqsa, maupun dalam ritual keagamaan yang mereka lakukan di situs tersebut,” Khalid Zabarqa, seorang pengacara dan ahli di Yerusalem dan Al-Aqsa, mengatakan kepada Middle East Eye. “Mereka tumbuh semakin berani.”

Tampaknya menjadi bagian integral dari kebijakan pemerintah sayap kanan Israel terhadap Masjid Al-Aqsa dan Yerusalem, untuk mengeksploitasi insiden keamanan dan non-keamanan yang paling sederhana—apakah terkait dengan Al-Aqsa atau tidak—untuk memperkuat kontrolnya terhadap Masjid tersebut dan bersiap untuk Yahudisasi terakhirnya.

Pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tentang Yerusalem sebagai ibu kota negara pendudukan, telah memberi Israel hadiah dan dukungan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk kebijakan rasialis dan ekstremis, terutama pada semua hal yang berkaitan dengan Kota Tua dan Masjidil Al-Aqsa. (*)