Al Chaidar Sebut Bahasa Manifesto Brenton Tarrant Mirip Kalangan Saksi Yehuwa, Faktanya?

Tempat Ibadah Saksi Yehuwa (Dok. Saksi Yehuwa)

Unsur terpenting dalam gerakan terorisme adalah millenarianisme ekstrem seperti termuat dalam penelitiannya pada 2015. Demikian pernyataan Dosen FISIP Unimal Lhokseumawe, Al Chaidar.

Disebutkan saksi Yehuwa adalah denominasi Kristen restorasi milenarian dengan kepercayaan nontrinitarian yang berbeda dari agama Kristen arus utama.

Kelompok ini melaporkan keanggotaan di seluruh dunia sekitar 8,58 juta pengikut yang terlibat dalam penginjilan dan kehadiran peringatan tahunan lebih dari 20 juta orang.

“Saya sudah meneliti tentang milenarianisme ini sudah cukup lama sejak tahun 2000-an dan semua teori-teori yang saya terapkan terhadap semua pelaku-pelaku menunjukkan adanya gejala milenarianisme yang sangat kuat,” tegas Al Chaidar.

Menurutnya, ketika menganalisis tentang Brenton Tarrant ini, dari manifesto yang Brenton buat sendiri berjudul the Great Replacement itu menunjukkan bahasa yang sangat mirip dengan bahasa yang dikemukakan oleh kalangan saksi Yehova.

Penelusuran radarcirebon.com,  Saksi-Saksi Yehuwa, meyakini dalam Alkitab itu nama Yehuwa disebut lebih dari tujuh ribu kali. Tapi nama yang dianggap sebagai sang pencipta ini tak terdapat dalam Alkitab perjanjian lama dan baru.

Sebutan Yehuwa sama dengan Yahweh atau YHWH. Tapi ini bukan agama Yahudi. Didirikan di AS pada akhir abad ke 19, di bawah kepemimpinan Charles Taze Russel. Berpusat di New York. Walau berbasis Kristiani, kelompok ini percaya bahwa Gereja-Gereja Kristen tradisional sudah berpaling dari ajaran-ajaran murni Alkitab dan tidak lagi sepenuhnya selaras dengan Tuhan. Gereja Kristen tradisional tidak menganggap gerakan ini sebagai ajaran Kristen yang umum karena menolak doktrin Trinitas Kristen. Saksi Yehowa percaya bahwa kemanusiaan sudah berada di ‘hari-hari terakhirnya’ dan pertarungan terakhir antara kebaikan dan kejahatan akan berlangsung segera.

Tak ada dana dari pemerintah daerah atau pusat. Mereka mengandalkan sumbangan sukarela dari jemaat. Tapi mereka selalu berupaya tunduk pada pemerintah, artinya: patuh hukum, bayar pajak rutin, hingga menuntaskan seluruh persyaratan mendirikan rumah ibadah. Tapi mereka enggan ikut campur urusan politik.

Saksi-Saksi Yehuwa gencar melakukan penginjilan dari rumah ke rumah. Tak peduli agama atau kepercayaan penghuni rumah, mereka akan menjelaskan pokok ajaran Saksi-Saksi Yehuwa. Setelahnya mereka memberi majalah dan menunjukkan situsweb resmi mereka kepada penghuni rumah.

Sementara, di Rusia, Alkitab Saksi-Saksi Yehuwa dilarang karena dianggap memuat ajaran ekstremis. Pihak berwenang Rusia selama ini tidak pernah mengakui kepercayaan Saksi-saksi Yehuwa. Adanya penafsiran yang berbeda dari sejumlah ayat Alkitab menjadi salah satu hal yang membedakan Saksi-saksi Yehuwa dengan Gereja Ortodoks Rusia.

Selama satu abad terakhir, keberadaan Saksi-saksi Yehuwa tak pernah dianggap di Rusia. Namun, kondisi itu masih lebih baik karena aktifitas mereka sempat dilarang sepenuhnya. Pada 1951, Stalin bahkan mengasingkan 8.000 orang pemeluknya ke Siberia. Angka tersebut merupakan 80 persen dari jumlah total penganutnya kala itu di Uni Soviet.

Saksi Yehuwa menanggapi serius serangan yang belum lama ini terjadi di Sankt Peterburg. Hal itu dikarenakan aktifitas mereka yang sesungguhnya telah dilarang secara hukum dan diberi label sebagai organisasi berbahaya.

Saat ini, menurut data yang dipaparkan oleh Kepala Dewan Ahli Keagamaan Negara Kementerian Peradilan Rusia Roman Silantiev, terdapat setidaknya 165 ribu penganut Saksi-saksi Yehuwa di Rusia.

Saksi Yehuwa Indonesia

Ajaran ini baru masuk Indonesia pada 1930. Tersebar di seluruh provinsi, jumlah mereka sekitar 26.741 orang pada 2016. Jemaatnya ada di 240 negara dengan sekitar 8,3 juta pengikut.

Dalam sebuah pemberitaan, Saksi-Saksi Yehuwa tidak menimbulkan gangguan. Saksi-Saksi Yehuwa menjalankan agama yang mendatangkan manfaat bagi anggotanya dan juga orang-orang lain di masyarakat. Saksi-Saksi Yehuwa membantu banyak orang mengatasi kecanduan yang merusak, seperti penyalahgunaan alkohol, narkoba, mengadakan kelas membaca di seluruh dunia, membantu ribuan orang belajar membaca dan menulis.

Saksi-Saksi Yehuwa tidak agresif atau memaksa sewaktu menceritakan tentang kepercayaan mereka. Saksi-Saksi Yehuwa tidak mencoba untuk memaksakan kepercayaan kepada siapa pun. Sebaliknya, Saksi-Saksi Yehuwa percaya bahwa semua orang hendaknya punya pengetahuan agar dapat membuat keputusan setelah mengetahui informasi yang lengkap.

Dalam majalah utamanya, Menara Pengawal, Saksi-Saksi Yehuwa menyatakan, “Menekan orang-orang untuk mengubah agamanya adalah salah. Kami  tidak memaksa orang untuk berganti agama dan tidak menawarkan imbalan materi atau sosial untuk mendapat anggota baru.”

Dikutip dari Antara, Saksi-Saksi Yehuwa tidak melanggar hukum di Indonesia. “Kami punya pengakuan secara hukum di Indonesia dan ratusan negeri lain di seluas dunia. Saksi-Saksi Yehuwa menghormati tanggung jawab dan wewenang pemerintah setempat. Kami adalah warga negara yang taat hukum yang  membayar pajak dan bekerja sama dengan upaya pemerintah demi  kesejahteraan rakyat.”

Sebagai hasil dari nilai-nilai rohani, Saksi-Saksi Yehuwa tidak terlibat dalam kegiatan seperti memengaruhi pemerintah  (lobbying), pemberontakan sipil, atau gerakan untuk mengambil alih  kuasa atau mendorong adanya perubahan di pemerintah atau hukum. “Kami dikenal di banyak negeri sebagai warga negara teladan yang cinta damai yang sama sekali tidak perlu ditakuti oleh pemerintah.” (*)