Al-Habib Umar bin Muhammad Ajak Umat Tidak Saling Menghujat

Kabupaten Kuningan
PENGAJIANRibuan jamaah memenuhi area Ponpes As Shidqu, Desa Sampora, Cilimus, mendengarkan tausiyah al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. (Kanan) kegiatan halaqoh ilmiah di gedung pertemuan UMC di Watubelah-Sumber, Kabupaten Cirebon.FOTO:M TAUFIK-ABDUL HAPID/RADAR CIREBON

KUNINGAN-Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz dari Yaman mengunjungi Kuningan dan Cirebon. Di Kuningan, mengisi pengajian di Pondok Pesantren As Shidqu, Desa Sampora, Cilimus. Di Cirebon, halaqoh ilmiah di gedung pertemuan Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) di Watubelah-Sumber.

Pengajian di Sampora, Cilimus, Rabu malam (10/10), dihadiri ribuan jamaah dari berbagai daerah. Para jamaah rela duduk di aspal sepanjang ruas jalan baru Sampora-Caracas hingga depan pondok pesantren pimpinan Habib Quraisy Baharun yang ditutup sejak Rabu sore.

Mereka antusias ingin mendengarkan tausiyah dan didoakan oleh salah satu ulama besar yang mempunyai garis keturunan dengan Rasulullah SAW tersebut. Acara pengajian akbar bertajuk Ijazah Qubro dan Munajat ‘Udzma itu diawali dengan melantunkan puji dan salawat untuk Baginda Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabat.

Dilanjutkan dengan tausiyah singkat dari beberapa ulama besar dari luar negeri seperti Inggris dan Mesir yang mendampingi Habib Umar. Sementara dalam tausiyah, Habib Umar menyampaikan beberapa pesan. Di antaranya ajakan untuk saling sayang-menyayangi sesama umat dan tidak saling menghujat yang bisa berujung pada pertikaian dan perpecahan.

Ini, kata Habib Umar, berkaitan erat dengan isu politik Indonesia saat ini yang akan menggelar pemilihan presiden. Menurut dia, tak perlu ada saling ejek dan mencela di antara calon, pimpinan partai, dan pendukung. Karena itu hanya akan memperkeruh kondusivitas negara.

“Jangan saling menghujat hanya karena beda kelompok, keyakinan dan pilihan politik. Karena sesungguhnya sifat benci datangnya bukan dari Allah melainkan bisikan dari iblis laknatullah,” tegas Habib Umar melalui penerjamahnya. Ia juga mengajak kepada seluruh umat muslim untuk mencari rezeki dengan cara halal, jauhi riba dan mengejar kedudukan dengan cara yang baik dengan menghindari perselisihan.

“Jika kalian mengejar kedudukan dengan saling hujat dan menjatuhkan, siapa yang mengajarkan ini? Sungguh nasihat Rasulullah sangat baik untuk kalian ikuti,” tegas Habib.

Habib juga membahas tentang sejumlah bencana yang melanda beberapa wilayah di Indonesia dan meminta kepada masyarakat untuk bersabar dan menerima ini sebagai cobaan dari Allah SWT. Melalui majelis ini, Habib pun berdoa agar Allah SWT menghentikan semua bencana yang terjadi dan menggantinya dengan rahmat dan kebaikan untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Sementara kemarin, Habib Umar hadir pada halaqoh ilmiah yang diadakan Majelis Almuwasholah Baina Ulama Almuslimin bekerja sama dengan Hai’iah Ashhofwah Almalikiyah Niqobah Cirebon. Forum ilmiah yang digelar di aula UMC Watubelah-Sumber itu bertemakan “Membangun Kepribadian Para Da’i”.

Acara halaqoh dihadiri oleh para habaib dan ulama. Salah satunya Habib Miqdad Baharun sebagai ahlul bait. Habib Umar sendiri sebagai pengisi halaqoh. Acara dimulai sekitar pukul 09.00 WIB dan baru selesai pada pukul 13.30.

Dalam kesempatan itu, Habib Umar melalui penerjemah Ustad Ahmad Busaeri menjelaskan bahwa sifat wajib bagi seorang da’i yang berhubungan dengan sifat batin atau karakter-karakter batin. Yang pertama, menanamkan rasa takut kepada Allah SWT. Rasa takut ini adalah sebagai dalil keberadaan kekhusuan dalam hati. Jika rasa takut hilang, maka kekhusuan juga akan hilang dalam hati.

Yang kedua Habib Umar menyampaiakan, harus berpaling dari perkara-perkara yang menyebabkan melalaikan tugas utama dakwah. Yang ketiga, seorang dari harus menanamkan sifat rahmat dalam hati kepada siapapun walaupun orang tersebut telah menyakiti, melukai, bahkan menghalang-halangi dakwah.

Keempat, Habib Umar menyampaikan yang wajib dimiliki oleh seorang da’i ialah mengiklaskan semua amalan dakwah karena Allah SWT, mencari semata-mata keridhaan Allah, kecintaan Allah, agar semakin dekat kepada Allah SWT.

“Perkara-perkara yang demikian yang menjadi perhatian penuh para ulama-ulama salaf. Inilah yang diperintahkan oleh Allah SWT, agar senantiasa menanamkan rasa mahabah, dan para hati umat agar senantiasa berjalan di jalan yang diridhoi Allah SWT. Inilah kepentingan yang paling penting,” pesan Habib Umar. (fik/pid)