Anak SD Trauma Tak Mau Sekolah Diduga Dikeroyok Melibatkan Ortu Siswa

Kuasa Hukum Korban Menyayangkan Proses Hukum Kliennya Berjalan Lambat

ILUSTRASI

CIREBON-Seorang bocah kelas 1 salah satu SD di Kota Cirebon diduga menjadi korban kekerasan fisik oleh teman-temannya. Kejadian itu membuat korban tak mau sekolah lagi. Orang tua dari salah satu terduga pelaku disebut-sebut terlibat. Meski kasus ini sudah dibawa ke ranah hukum, tapi hingga kini belum ada kepastian.

Bocah berinisial A itu mengalami trauma akibat aksi penganiayaan yang ia alami 5 bulan lalu. Korban yang berusia 7 tahun itu kini hanya bisa mengurung diri di dalam kamar. A juga terancam terenggut masa depannya lantaran enggan kembali bersekolah.

Mila (46) ibu kandung korban mengatakan peristiwa yang dialami putranya terjadi Sabtu 9 Februari 2019 di salah satu SD di Kota Cirebon. Anak keempat dari empat bersaudara itu diduga dikeroyok 4 teman sekelasnya saat jam istirahat. “Pas istirahat. Waktu itu anak saya masih di kelas, masih menulis pelajaran,” katanya kepada Radar Cirebon di rumahnya Kompleks Pelabuhan Pos I Pelabuhan, Kota Cirebon.

Diungkapkannya, saat anaknya tengah menulis mata pelajaran, tiba-tiba diganggu salah seorang temannya berinisial Y. Ia mencoret-coret buku, merobek, dan membuangnya ke lantai. Tak terima, korban mengejar Y hingga sempat terjadi perkelahian. “Kemudian dia (Y, red) ini menangis di kelas,” tuturnya menceritakan kronologi seperti yang disampaikan sang anak kepadanya.

Tangisan Y membuat orang tuanya masuk ke kelas dan memperingatkan A agar tidak mengulangi perbuatannya itu. Tak sampai di situ, lanjut Mila, ternyata orang tua Y menyuruh A maju dan berdiri di depan kelas. “Anak saya disuruh maju, berdiri di depan, di dekat tembok,” katanya.

Tak lama, orang tua Y kemudian menyuruh anaknya untuk menghajar A dengan memberikan istilah smack down. Orang tua Y juga disebut-sebut sempat membuat video adegan penganiayaan itu. “Smack down, di situ terus. Ini mamah (orang tua Y, red) videoin ya,” ujarnya menirukan perkataan anaknya.

Korban yang seorang diri tidak berani melawan karena takut dengan keberadaan orang tua Y. Aksi itu diduga terus berlanjut. Orang tua Y diduga menyuruh tiga siswa lainnya untuk ikut menganiaya A. “Teman-teman bantu pukul sebanyak mungkin,” kata Karmila, masih menceritakan apa yang disampaikan anaknya.

Halaman: 1 2 3 4